Langsung ke isi

Hiburan Malam Hingga Kaki Palsu

27 September 2012

JEMARI lentik Dina, sebut saja begitu, menjabat erat tangan saya. Wajahnya muram. Mendung menggayut seluruh wajah. Di sudut lain, sejumlah family berkumpul. Sebagian duduk, sebagian berdiri di pelataran rumah duka.
Ya. Malam itu kami berkumpul untuk mengucapkan duka mendalam atas wafatnya suami Dina. Pasangan muda itu harus berpisah. Sang suami tewas karena kecelakaan di jalur Pantura Jawa. Kami kehilangan.
Kejadian nahas itu meninggalkan duka mendalam. Hingga beberapa lama tak diketahui siapa juntrungan pemicu kecelakaan tersebut. Pastinya, mobil suami Dina ringsek di pinggir jalan. Itu jalan yang dibuat Sang Maha Kuasa. Kita tak mampu menolaknya.
Dina adalah wanita muda yang tangguh. Sepeninggal sang suami dia bekerja keras. Tinggal di rumah kos sederhana bertarif tak lebih dari Rp 500 ribu per bulan. Dia harus rela berpisah dengan sang anak yang masih balita. Buah hatinya tinggal di rumah orang tua. Dina menyambung hidup di Jakarta.
Hampir setahun lewat kejadian memilukan di Pantura, kami pernah bersama-sama menelusuri aspal, Jakarta-Ujung Genteng, Sukabumi. Tidak tanggung-tanggung, perjalanan dengan sepeda motor harus dilalui hampir 11 jam. Maklum, perjalanan dimulai tengah malam dan sempat diguyur hujan. Apalagi, di antara rombongan kami belum pernah ada yang melintasi rute cukup menantang tersebut.
Bagi Dina, perjalanan bersepeda motor hingga belasan jam, tentu saja diselingi istirahat, merupakan pengalaman pertamakali. Rasa letih lunas dibayar oleh keceriaan dan indahnya pemandangan laut yang dekat penangkaran penyu hijau tersebut. “Ini pertamakali pak, tapi menyenangkan,” sergah dia, saat berbincang dengan saya.
Semangat hidup terus mencuat. Duka mulai tertinggal di belakang. Menatap masa depan adalah pilihan. Membesarkan sang balita adalah api penyemangat luar biasa. Kini, Dina semakin mapan. Setidaknya, dibandingkan yang saya kenal beberapa tahun lalu. Duka kecelakaan sudah tak mengguncang.
Kisah Dina berbanding terbalik dengan Linsa. Wanita muda usia dua puluhtahunan itu harus ekstra keras menatap masa depan. Linsa harus berpisah dengan suami tercinta lantaran kecelakaan maut. Saat itu, suatu senja, mereka bersepeda motor. Tiba-tiba, yang dirasakan oleh Linsa adalah gelap dan gelap. Dia pingsan.
Nahas, sang suami tak bisa ditolong, sedangkan Linsa kembali pulih setelah mendapat perawatan, termasuk menjalani operasi di rumah sakit. Pasca-kehilangan tiang ekonomi keluarga, Linsa harus berjuang menghidupi sang balita yang berusia kurang dari satu tahun. Pilihannya adalah hidup merantau ke Jakarta. Si buah hati tinggal bersama orang tua di kampung halaman.
Dampak kecelakaan lalu lintas jalan membuat ekonomi keluarga terganggu. Linsa memilih bekerja di dunia hiburan. Bekerja di malam hari, istirahat di siang hari. “Saya terpaksa merokok dan minum alcohol, tapi tidak banyak,” sergahnya, suatu malam saat berbincang dengan saya.

Dia mengaku, tanggung jawabnya membesarkan si buah hati adalah penyemangat yang membuat dirinya tetap tegar. Merantau ke Jakarta adalah pilihan untuk hidup lebih baik. Sekalipun harus menjalani episode di rumah musik. “Saya juga harus mempersiapkan diri untuk pekerjaan yang lain. Tak selamanya saya bekerja seperti ini,” kata dia.
Dina dan Linsa hanya dua dari puluhan ribu keluarga yang ditinggal pergi keluarga terkasih akibat kecelakaan. Tak sedikit yang terguncang finansialnya akibat kecelakaan. Terlebih, mereka yang ditinggal tiang ekonomi keluarga. Suami atau ayah tercinta. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta menyebutkan, sekitar 60% korban kecelakaan terkena dampak finansial. Masuk akal.
Paling tidak, keluarga korban harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan. Atau, mengganti kendaraan yang rusak. Bahkan, jika korban meninggal dunia dan tiang ekonomi keluarga, hilang sudah pendapatan keluarga. Jika sudah begini, harus ada alternatif. Membangkitkan finansial mereka.
Saya jadi ingat kegiatan teman-teman saya di program, Get Home Safely, dari asuransi Adira. Mereka menyumbang kaki palsu bagi para korban kecelakaan lalu lintas jalan. Mereka mengaku hal itu ditempuh agar bisa memulihkan kembali produktifitas sang korban. Dengan kaki palsu, mereka diharapkan bisa kembali bekerja. Menghidupi diri dan keluarganya. Sebuah program mulia.
Ya. Fakta di sekitar kita memperlihatkan bahwa kecelakaan tak hanya membawa luka fisik. Eksesnya panjang, termasuk ekonomi dan sosial. Tentu ada sejumlah langkah untuk bisa meminimalisasinya. Mulai dari ikut program asuransi, kemandirian ekonomi, hingga yang paling awal adalah, mencegah terjadinya kecelakaan.

Kolega saya di Road Safety Association (RSA) menerapkan tiga hal untuk mencegah kecelakaan. Pertama, berkendara yang aman dan selamat dengan selalu mentaati aturan yang ada. Kedua, memiliki keterampilan memadai dalam berkendara. Terakhir, selalu berperilaku yang peduli dengan sesama pengguna jalan.
Ketiga langkah itu sebagai upaya preventif. Ikhtiar untuk mengurangi fatalitas kecelakaan. Kalau warga Negara sudah sadar dan mau berkendara yang aman dan selamat seperti tiga langkah RSA itu, giliran para pemangku kepentingan juga ambil peranan. Para penegak hukum, para penyedia infrastruktur, para penyedia suprastruktur transportasi, hingga regulator industri otomotif, mesti bersinergi. Muaranya cuma satu, memperkecil hilangnya anak negeri di jalan raya. Tahun 2010 dan 2011 menunjukkan, rata-rata per hari sedikitnya 85 orang tewas akibat kecelakaan di jalan raya. (edo rusyanto)

About these ads
9 Komentar leave one →
  1. 27 September 2012 07:21

    sip sip

  2. 27 September 2012 08:41

    safety tetep utama

    nitip lapak mas,
    [mari bersyukur]
    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/09/26/bersyukur-mesti-cuma-10ribu/

  3. kong firman permalink
    27 September 2012 10:47

    nice artikel,eyang..
    Harus jdi renungan buat qta semua…

    • 27 September 2012 10:55

      Semoga berfaedah. Aminn.

  4. 27 September 2012 18:20

    Menyentuh….. Hikz

  5. 28 September 2012 03:26

    taat peraturan lalu lintas, peduli pengguna jalan lain adalah dua hal yang hampir tiap hari kita lihat diabaikan di jalanan, seharusnya pemimpin negeri atau orang terpandang yang menyadarkan melalu kampanye keselamatan berkendara agar warga juga melihat, bahwa ini harus begitu kata bapak gubernur atau presiden.
    85 jiwa dalam sehari itu jumlah yang tidak sedikit, sayang gaungnya kalah sama isu pembunuhan kasus sara dan semacamnya, negeri politik, yang berbau politik dan menguntungkan golongan diendorse mati matian, tapi yang mati matian di jalan tak lebih jadi lipstik tiap lebaran saja.
    ————–++-++—————
    (Dina,Lisna, sapa lagi yak ? Bung Rio mana neh :D )

    • 28 September 2012 04:03

      Pemerintah masih blm konsisten dan sinergis dlm kampanye keselamatan jalan. Krn itu, harus terus diingatkan. Di sisi lain, sbg pengguna jalan, ikhtiar juga terus dilakukan, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil.
      Btw, bung Rio lebih faham soal Lisna. Eh soal road safety.

  6. 28 September 2012 11:23

    sangat bagus artikelnya,,,
    harus jaga keselamatan…

  7. 1 Oktober 2012 05:27

    bagus juga artikel ini, sangat menyentuh. Semoga pada sukses menjalani hidup

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.296 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: