Bisakah Kemacetan Hilang Dari Jakarta?
Dua tahun lalu, September 2010, Wakil Presiden Boediono menelorkan 17 jurus untuk mengatasi kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta. Upaya pemerintah pusat tersebut perlu ditempuh mengingat kemacetan di Jakarta sudah sangat memprihatinkan. Termasuk, menimbulkan kerugian hingga belasan triliun rupiah per tahun.
Terkait hal itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta diminta serius mengatasi kemacetan lalu lintas jalan yang dianggap sudah cukup kronis. Langkah penting yang harus dilakukan di antaranya mempercepat perwujudan 15 koridor busway dan reformasi sistem perizinan dan perbaikan sistem trayek bus non bus rapid transit (BRT).
“Selain itu, fokus pada infrastruktur pedestrian di kampung-kampung menuju halte angkutan umum dan pembangunan loop line kereta api,” kata Danang Parikesit, ketua umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), saat berbincang dengan saya via pesan tertulis, di Jakarta, Jumat (21/9/2012) sore.
Tentang busway atau Trans Jakarta, sejak dioperasikan pada 2004, hingga kini baru terealisasi 11 koridor dari rencana 15 koridor. Dalam rancangan pembangunan transportasi Jakarta, koridor yang tersisa di antaranya adalah Ciledug-Blok M, Kalimalang-Blok M, Manggarai-Depok. Ketiga rute tersebut diusulkan agar memakai sistem jalan layang.
Kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta sulit dibendung mengingat tingginya jumlah perjalanan harian warga Jakarta. Saat ini, setidaknya ada 20 juta perjalanan per hari. Belum lagi jumlah kendaraan yang wara-wiri. Hingga kini, sedikitnya ada 13 juta kendaraan di Jakarta.
Calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dalam janji kampanyenya juga memprioritaskan program mengatasi kemacetan lalu lintas jalan. Masalah kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta tak sekadar menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerugian ekonomi. Hal yang amat memprihatinkan, karut marut lalu lintas jalan di Jakarta menimbulkan korban tewas sebanyak tiga orang per hari.
Joko Widodo atau Jokowi mengaku bakal segera mengeksekusi blue print tentang transportasi massal yang sudah dibuat. Keberanian mengeksekusi program memang menjadi salah satu keunggulan yang ditonjolkan Jokowi.
Selain itu, kata dia, perlu ada penataan ulang tata ruang, sehingga tempat tinggal dengan kantor bisa lebih dekat.
“Yang cukup penting dari program nya Jokowi – Basuki adalah pembangunan permukiman masy miskin di dekat stasiun dan prasarana angkutan umum,” kata Danang Parikesit.
Program Jokowi lainnya adalah mendorong perwujudan 15 koridor busway, membangun monorel, dan membangun railbus.
Pengamat transportasi Darmaningtyas sebelumnya mengingatkan, untuk mengatasi kemacetan lalu lintas jalan di Jakarta, perlu adanya revolusi angkutan umum. Tujuannya agar angkutan menjadi lebih aman, nyaman, dan terjangkau, sehingga mampu mendorong pengguna mobil pribadi dan sepeda motor beralih ke angkutan umum. Model angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau di antaranya Trans Jakarta. Angkutan tersebut harus menjangkau wilayah penghubung dan disinergikan dengan layanan kopaja, metromini, dan mikrolet.
(edo rusyanto)






bisa..
Butuh kebijakan nyata
serahkan kpd DKI 1 yg baru…bisa kali
di kota2 negara2 maju pun yg namanya macet itu udah hal yg biasa…
hanya saja, penyebab dan cara mengurai macet nya itu yg beda…
kalo disini terutama adalah disiplin pengendara mobil dan motor, kadang jalan yg gak perlu macet jadi macet karena pada rebutan mo segera lewat, padahal dengan disiplin antri gak bakalan jadi macet…
conto lain ya pas traffic light merah…
liat aja sendiri deh…
Perilaku masih awut2an yah?
ndak bisa…bahkan akan bertambah macet di kota2 lain juga…helah kebijakan pemerintah pusat sendiri masih memudahkan sekali buat memiliki kendaraan kok…
Pertumbuhan kendaraan lebih cepat?
Macett itu Indahh koq….so enjoyy saja….(ditemanin bbm, tab dlll)
Hehehe….betul juga, enjoy aja.
Berharap bisa hilang dengan kepemimpinan gubernur baru siapa tau cara menanggulanginya berbeda ,, hemm will see
Jin Blangkon:
” Kemacetann,,,,,,, Hilang,,,!! ”
” Tapi,,, wani piro?? “
tugas yg berat…dan tanggung jwb kita semua..
ijin menyimak dan nitip tulisan mas
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/09/22/kenapa-engkau-mengeluh/
terima kasih
macet ttp akan ada mungkin hanya berkurang aja sesuai kebijakan nyata yg ada. .semoga
Aminnn
Subsidi BBM dialihkan ke perbaikan transportasi umum. Jd yg punya kendaraan simpen aja di rumah, gak segen naik bus. Damri eksis lagi, yg korup gantung aja..
Macet bukan cuma monopoli jakarta saja. contohnya saya tinggal di surabaya, jalanan makin hari makin macet saja. Kedisiplinan Sepeda motor juga rendah, pertumbuhan jumlah spd motor sangat tinggi. Mau nggak macet? ya pindah aja ke pulau seribu/ ke pulau terpencil. Menurut saya kemacetan di kota besar sangat wajar, di luar negeri yg banyak transportasi umumnya saja jalanan masih macet.
koridor 13 gue aja kode nya tdi (tunggal dara indonesia)
mahal dan sulit untuk mengatasi kemacetan di jakarta, jakarta khusus untuk pusat memerintahan aja, pusat industri dll dipindah ke luara jawa. agar kemakmuran lebih merata.
Kalo jumlah motor di Jakarta lebih banyak daripada penduduk asli jakarta, berarti penggunanya kebanyakan dari luar Jakarta. Nah, selama ini tuh Busway hanya mengakomodir lintas dalam Jakarta belum ke tetangga seperti Bekasi, Depok, Tangerang. Apa iya orang naik motor dari rumah terus parkir di stasiun busway? kan enggak.