Tiap Jam, Jawa Diserbu 480 Motor
PASAR di Jawa masih seksi bagi produsen atau penjual sepeda motor. Buktinya, pada Januari-Juli 2012, Jawa menyerap sekitar 57% atau sekitar 2,45 juta unit. Artinya, setiap jam, Jawa diguyur 480 motor.
Periode itu, total penjualan motor di Indonesia sekitar 4,32 juta unit. Jawa memang menggiurkan.
Data tersebut berasal dari volume penjualan anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Di luar Aisi, masih ada beberapa pemain bisnis sepeda motor, walau volumenya tak setinggi Aisi.
Kontribusi Jawa pada tujuh bulan 2012 melonjak jika dibandingkan periode sama 2011. Tahun lalu, kontribusi Jawa sekitar 51,11%, walau jika dari sudut volume penjualan, terjadi koreksi 0,01%.
Tingginya lonjakan market share Jawa tak terlepas dari melemahnya volume penjualan di pulau-pulau lain di Indonesia. Sebut saja misalnya, volume penjualan di Sumatera. Pulau kedua terbesar penjualan motor itu, pada akhir Juli 2012, menyerap sekitar 956 ribuan unit. Padahal, pada periode sama 2011, penyerapannya masih sekitar 1,32 juta unit. Praktis, market share-nya pun melorot, yakni dari sekitar 27,56% menjadi 22,13%.
Begitu juga dengan pulau ketiga terbesar, yakni Kalimantan. Volume penjualannya melorot 16,07% menjadi 378 ribuan unit. Buntutnya, kontribusi Kalimantan melemah, dari 9,37% menjadi 8,76%.
Penjualan sepeda motor di Jawa ditopang oleh banyak faktor yang menguntungkan. Pertama, pusat produksi sepeda motor anggota Aisi seluruhnya berada di Jawa, khususnya di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kedekatan pusat produksi dengan pusat pemasaran memudahkan distribusi. Kecepatan distribusi memengaruhi tingkat permintaan konsumen.
Kedua, jaringan pemasaran dan purna jual. Jaringan pemasaran dan bengkel milik anggota Aisi amat mudah ditemui di wilayah Jawa. Nyaris di setiap kota dengan mudah kita menjumpai jejaring mereka.
Ketiga, pusat pembiayaan. Maraknya penjualan sepeda motor tak bisa dilepaskan dengan peran perusahaan multi finance atau perusahaan pembiayaan. Lebih dari 70% penjualan motor memakai sistem kredit yang ditopang oleh multi finance.
Keempat, daya beli dan gaya hidup. Konsumen di Jawa memiliki daya beli yang cukup baik untuk segmen sepeda motor. Terutama sepeda motor di bawah harga Rp 15 juta per unit. Bila hal itu ditopang oleh gaya hidup yang kerap gonta-ganti motor, praktis volume penjualan ikut terdongkrak.
Kelima, faktor lalu lintas jalan. Ini menjadi penting mengingat mobilitas konsumen kian hari kian ingin cepat. Bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain ingin lebih cepat dan berbiaya murah. Sepeda motor dikenal lebih efisien, cepat, dan murah. Tentu jika dibandingkan dengan menggunakan angkutan umum di perkotaan yang harus berjuang dengan kemacetan lalu lintas jalan.
Pasti ada faktor-faktor lain di luar kelima faktor utama di atas. Terlepas dari hal itu, upaya para produsen merangsang calon konsumen juga cukup agresif. Salah satunya lewat pemasangan iklan di berbagai media massa, termasuk media luar ruang seperti papan reklame dan baliho.
Oh ya, jika Indonesia diguyur 20 ribu lebih motor per hari, wilayah Jawa ternyata mencapai sekitar 11.542 motor per hari. Angka itu setara dengan sekitar 480 motor per jam.
Nah, dari sebanyak itu, DKI Jakarta ternyata diguyur sekitar 2.806 motor per hari atau 116 motor per jam. Periode Januari-Juli 2012, wilayah Jakarta berkontribusi sekitar 13,81% terhadap total penjualan motor di Indonesia. Pasar Jakarta ketiga terbesar setelah Jawa Barat (15,02%) dan Jawa Timur (14,80%). Gurihkan bisnis sepeda motor? (edo rusyanto)







ngeri banget mbah…tadi pagi…saya, nyelap nyelip,,gak motor gak mobil moralnya sama aja…..berebut jalan…….skrg jamannya rebutan jalan….
angka yang fantastis..
nitip tulisan mas
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/09/03/jagalah-amanahmu-meski-keadaanmu-sulit/
terima kasih
Luar biasa sekali ya Om.
Pertambahan jumlah kendaraan tidak diimbangi dengan penambahan ruas dan kualitas jalan.
Ditambah lagi lagi dengan mental pengendara yang tidak dewasa.
Masa sampe ada prinsip ‘Kalo nyalakan lampu sein nanti malah gak dikasih jalan’,,hadeeh..
Pantas saja, setiap kali saya lewat di jalur pantura, Bojonegoro – Surabaya, pasti berpapasan dengan truk pengangkut motor baru, dan kebanyakan produk honda.
padatnya pulau jawa..
ohh jawaku
nanti saya jadi presiden punya partai super mayoritas saya lepas pulau jawa,sedangkan .Pulau Sumatra ,kalimantan,sulawesi ,papua,maluku,dan nusa tenggara bikin negara baru. Jadi kami gak usah ke ibukota banjir demi ngerasain hidup standard tinggi atau sekedar mencari makan sesuap nasi. Pulau kecil kerempeng kayak jawa rakusnya minta ampun…