Tikungan Tajam? Mending Sabar Dikit
TIKUNGAN jalan memang mesti diwaspadai. Banyak kasus menyodorkan fakta kepada kita. Kecelakaan kerap terjadi di tikungan jalan.
Saat bersepeda motor Jakarta ke Citeureup, Bogor, Sabtu (1/9/2012) siang, saya dikagetkan oleh sejumlah pengguna jalan yang nongol tiba-tiba di tikungan jalan. Salah satunya di tikungan jalan jelang pertigaan Cilodong, di Jl Raya Bogor. Saya yang dari arah Cibinong menuju Jakarta dikagetkan oleh pemotor yang melebar ke luar jalur. Padahal, lokasi itu bukan tikungan tajam. Terpaksa saya mengambil ruas lebih ke kiri. Bersyukur tak ada kecelakaan.
Kenapa mereka mendahului di tikungan jalan? Kenapa harus keluar dari jalur yang sudah disediakan? Apakah tidak terlintas bakal terjadi kecelakaan dari arah berlawanan?
Tiga pertanyaan itu menggelayut di kepala. Saya coba buka arsip data yang ada. Ternyata ada fakta yang memilukan. Faktor jalan menjadi pemicu kedua terbesar dan berkontribusi sekitar 28% terhadap total kecelakaan lalu lintas jalan pada 2011. Pemicu utama masih faktor manusia, yakni sekitar 53%.
Nah, dari seluruh faktor jalan, ternyata tikungan tajam menjadi pemicu utama yakni berkontribusi sekitar 25%. Faktor jalan dibagi menjadi delapan unsur, yaitu; tikungan tajam, tidak ada marka, jalan berlubang, jalan licin, jalan rusak, tidak ada penerangan jalan, pandangan terhalang, dan marka rusak.
Saya jadi ingat salah satu tikungan berbahaya yang ada di Indonesia, yakni tikungan Seunapet di Jalan Nasional Banda Aceh-Medan. Aceh.tribunnews.com menyebutkan, sejak 2007-2011 telah terjadi kecelakaan lalu lintas di tikungan Seunapet sebanyak 16 kasus yang menyebabkan 12 orang meninggal dunia, 16 orang mengalami luka berat, dan 80 orang mengalami luka ringan.
Atau kasus minibus Daihatsu Grand Max Luxio di Sumatera Utara pada Senin, 14 Maret 2011. Hasil investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, delapan orang tewas, dua selamat, dan satu tak ditemukan. Mobil yang mengangkut 11 penumpang dari arah Padang menuju Medan. Kondisi jalan menurun dan berliku serta tidak ada lampu penerangan jalan. Sedangkan kondisi lingkungan sekitar merupakan perbukitan yang terdapat banyak pohon-pohon sehingga dapat mengurangi jarak pandang pengemudi. Kejadiannya juga pas di tikungan jalan.
Pada saat mobil Grand Max Luxio BK 1394 KO berada di Desa Husortolang, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, kondisi jalan beraspal dan menikung. Tiba-tiba kendaraan mengarah ke kanan dan melindas gundukan tanah yang terdapat di ruas jalan tersebut. Hal itu mengakibatkan pengemudi tidak dapat mengendalikan kendaraan. Oleh karena kendaraan lebih berat ke kanan dan kondisi jalan longsor, kendaraan jatuh ke dalam Sungai Batang Gadis yang pada saat itu arus sungai dalam kondisi pasang.
Tentu saja, kita sepakat, kecelakaan senantiasa dipicu oleh beberapa faktor, tak semata satu faktor. Namun, ada pemicu utama dan penunjang. Jalan menikung bisa menjadi pemicu utama, lalu faktor manusia yang tidak terampil mengemudikan kendaraan bisa ikut andil. Bahkan, faktor manusia yang lalai dengan melibas garis putih menyambung, juga bisa ikut memicu. Garis yang dibuat semestinya tidak dilewati, garis putih menyambung itu ibarat separator jalan.
Artinya, ketika melintas di tikungan, terlebih tikungan tajam, rasanya kita para pengguna jalan mesti super waspada. Hindari mendahului. Tetap berada di koridor jalan yang ada, tidak melintasi garis putih menyambung. Bersabar menjadi kunci penting. Lebih baik hilang waktu sesaat, ketimbang kita ’hilang’ dalam sesaat. (edo rusyanto)






tikungan memang membuai dan bahaya , sabarrrrrrrrrrrrrrrrrr
Mantabssss
berarti yang nyalip g ngerti aturan om?apa belum dapet edukasi?seharusnya saat membuat SIM hal2 tersebut jadi materi ujian bukan?
http://beckhem.wordpress.com/2012/09/01/kecepatan-rata-rata-berkendara-di-jakarta-semakin-lama-semakin-turun/
http://beckhem.wordpress.com/2012/09/02/the-raid-tayang-di-tvpertimbangkan-lagi-deh/
Kesalahan dia jelas, sudah melawan arus, kurang scanning pula. Kalau kurang scanning, jangankan tikungan di jalan 2 arah, di 1 arah pun bisa bahaya misal: orang menyeberang, gerobak dll.
wah tikungan ciluuukk baaa tuh ,.. bahayaaaa
Nice tips >> Lebih baik hilang waktu sesaat, ketimbang kita ’hilang’ dalam sesaat.
Makasih pencerahannya, Om…
kalo motor kebanyakan mereng2 pak…
jangankan motor sendiri touring lha wong yang touringer n klub motor aja separator garis menyambung dihajar juga…
nah karena itu gan, ane takut kalo nyusul di belokan
pernah celaka soalnya
25% wah bnyak jga yach mas
nitip tulisan mas
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/09/03/jagalah-amanahmu-meski-keadaanmu-sulit/
terima kasih
Banyak yang ngira motornya anti ringsek, tubuhnya anti sobek. Makanya ngga takut tabrakan :p .
Mungkin kalo di sirkuit enak mereng2 nah dijalan raya!
makanya di tikungan tajam, pasti ad marka jalan lurus tanpa putus2..
Setuju Eyang Edo…..!