Ojek Motor Misterius
SANMYA gelisah. Sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Malam terus merangkak.
Sepanjang hari seabrek pekerjaan kantor membayangi gadis dua puluh tahunan itu. Sang atasan banyak maunya. Pekerjaan satu belum selesai, datang lagi pekerjaan lain. Sebagai junior personal asistance, Sanmya berkewajiban melayani sang bos. Pernah suatu ketika, untuk urusan memesan tiket pesawat buat anak sang bos, Sanmya harus repot menghubungi biro perjalanan. “Heh! Bengong aja!” Sergah Tiwie, membuyarkan lamunan Sanmya.
Tiwie kolega Sanmya. Sama-sama personal asistance. Bedanya, Tiwie dua tahun lebih senior. “Iya nih, capek,” jawab Sanmya sekenanya.
“Pasti ngelamunin si jangkung,” goda Tiwie lagi, seraya masuk lift. Berdiri persis disamping Sanmya.
Si jangkung adalah sebutan buat Ryan. Karyawan bagian legal. Muda, berkulit kuning langsat, berotot, dan banyak yang menilainya ganteng. Bagi Sanmya sosok itu biasa-biasa saja. Sejak setahun putus dengan Radit, pikirannya fokus pada pekerjaan. Si jangkung memang pernah beberapa kali bertemu di kantin kantor. Tak sengaja, makan di meja yang sama. Tentu saja mau tidak mau keduanya terlibat pembicaraan. Obrolan pengisi waktu.
“Tuh kan bengong lagi, sudah nyampe nih. Aku duluan yah,” cerocos Tiwie yang terus ngeloyor ke parkiran mobil.
Sanmya hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Kakinya mengajak melangkah meninggalkan gedung perkantoran megah di jantung kota. Bergegas menuju pangkalan ojek motor langganannya. Sudah enam bulan dia pulang pergi nyemplak si roda dua. Selain lebih hemat, waktu tempuhnya juga bisa diandalkan.
“Pak Wangki gak narik mbak, isterinya sakit, mari saya antar,” suara lembut mengusik Sanmya. Sedari tadi dia celingukan mencari Pak Wangki. Justeru yang nongol adalah pria muda dengan motor skutik warna hitam. Selintas dari ekor mata terlihat pria muda itu lumayan ganteng. Kulitnya terlihat bersih. Senyumnya cukup manis.
Sanmya agak ragu. Tapi melihat tampilan pria muda yang ditaksir berumur 20 tahun, akhirnya dia menerima tawaran itu. Apalagi titik-titik gerimis mulai berjatuhan dari langit. “Pakai helmnya dulu ya mbak,” ujar sang tukang ojek motor.
Belum sempat Sanmya menjawab, suara itu disambung sang pengojek. “Selain supaya aman, juga biar gak ditilang mbak.”
“Makasih mas,” jawab Sanmya.
Motor melaju. Lalu lintas jalan super padat. Biasanya, waktu tempuh sekitar 20 menit dari kantor ke tempat kos Sanmya. “Mbak, lewat jalur pintas gak apa-apa yah. Soalnya sudah mulai gerimis nih.” “Iya mas, boleh.”
“Panggil aja saya Pinto, kan masih mudaan saya.”
Lucu juga nih, gumam Sanmya dalam hati. Mendadak dia merasa tua. Padahal baru 23 tahun. Obrolan pun berlanjut.
“Jakarta gak pernah tidur mbak. Sudah jam sepuluh malam kendaraan masih ramai,” sergah Pinto.
“Ya. Maklum, banyak warga Jakarta punya kendaraan pribadi. Kayak kamu begini Pinto,” seloroh Sanmya. “Repotnya, banyak pemotor dan pemobil yang ugal-ugalan mbak.” “Iya.”
“Saya paling benci dengan pemobil seruntulan. Masih ingat kan mbak kasus Tugu Tani?” “Iya. Sembilan orang tewas diseruduk minibus.”
“Malah pernah ada yang nabrak tiang reklame dan masuk kolam di bundaran HI.” “Kecelakaan dan kematian, menyakitkan.
Apalagi kehilangan orang tercinta akibat kecelakaan. Mbak pernah tabrakan?” Tiba-tiba semilir harum bunga. Membuat bulu kuduk Sanmya berdiri.
Ya. Jalanan Jakarta bukan sosok yang ramah. Tiap hari ada tiga orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Ada belasan orang luka-luka setiap harinya.
“Saya sedih, kesal, kadang marah kepada orang-orang seruntulan di jalan yang bikin orang meninggal. Mbak juga kan?”
Sanmya belum sempat menjawab, saat Pinto menepikan motornya. Berhenti karena hujan mulai mengguyur. Pilihannya sebuah warung kecil yang menjual gorengan dan mie rebus. Sanmya berteduh. Agak masuk ke dalam warung. Ada tiga orang di dalamnya. Jarak warung dengan rumah kos sekitar 500 meter.
Sanmya tak melihat Pinto. Tadi dia tampak memarkirkan motor disudut samping warung yang agak gelap. “Mungkin dia sedang memarkirkan motor,” gumamnya.
Dia beringsut agak ke dalam. Ada bangku kayu panjang. Diduduki dua lelaki. Di depan mereka duduk seorang pria berumur dengan rambut memutih. Tampaknya pria itu sang penjaga warung.
Dua pria yang duduk di kursi panjang asyik berbincang. Dua gelas kopi hitam menemani kudapan pisang goreng. Sesekali mereka menghisap rokok kretek dan menghembuskan asapnya ke udara. Sedangkan di luar hujan mulai deras. “Mau pesan apa nak,” terdengar suara berat sang penjaga warung.
Sanmya memesan segelas teh manis hangat sekadar mengusir dingin. Baju bagian atasnya sempat kena guyuran hujan. Lembab. Dingin.
“Gadis muda jangan sering melamun. Gak baik. Ini tehnya. Ngomong-ngomong mau kemana?” Tanya sang bapak. “Mau pulang ke kos pak.”
“Kos dimana?”
“Dibelakang toko material di jalan Sungai Lima.”
“Wah gak jauh lagi dong. Sayang hujan deras yah. Silakan diminum tehnya.”
Hujan kian deras. Sudah lewat sepuluh menit, sang tukang ojek tak masuk ke dalam warung. Sanmya melongok ke luar warung, tidak ada. Hanya gelap di sudut luar. Hujan deras. “Pak lihat tukang ojek yang tadi?” Tanya Sanmya kepada penjaga warung.
Tak ada jawaban. Ketiga pria yang ada disitu justeru menatap aneh ke arah Sanmya. Gadis itu merinding. Dia teringat kasus-kasus kriminal soal gadis muda yang diperkosa para pria kasar di tengah malam dan di dalam angkot.
“Tadi saya naik ojek, hujan deras, terus tukang ojeknya markirin motor, tapi kok gak ada orangnya yah,” ujar Sanmya berharap ada penjelasan.
“Kami gak lihat nak, kan dari tadi gak ada yang masuk ke warung,” kata sang pria tua itu.
Pikiran Sanmya melayang-layang. Jangan-jangan dia buru-buru menjemput langganan lain. Atau, buru-buru mau ketemu sang kekasih. Gak ada jawaban. Kenapa sang tukang ojek tiba-tiba menghilang. Misterius. “Saya belum bayar ongkos ojeknya pak.”
“Hemmm…Apakah pengojeknya masih muda? Berhidung bulat dan berwajah lonjong? Dan, dia naik motor skutik hitam?” Tiba-tiba pak tua itu bertanya sambil mendekat. Belum sempat Sanmya mengiyakan, pak tua itu menyambung.
“Lalu tiba-tiba ada wangi bunga? Kalau ya, dia adalah keponakan bapak. Namanya Pinto.” Kini mereka berempat duduk mendekat.
“Pinto masih muda saat dua tahun lalu dia ditabrak mobil yang ugal-ugalan. Malam itu dia baru pulang kuliah. Baru semester pertama. Dokter tidak bisa menyelamatkan nyawanya.” Suasana hening.
“Hari ini adalah tanggal peristiwa itu terjadi. Merupakan kali kedua dia ‘pulang’. Barangkali ingin bertemu kami orang tuanya.”
Keheningan membalut malam. Sanmya tak bisa berkata-kata. Antara percaya dan tidak. Hujan masih turun berlomba-lomba menyiram bumi. (edo rusyanto)
Cibubur, 31 Agustus 2012





Hiiy..
eyang ketularan kang yudibatang
wah keduluan mas ben komentarnya…
hehehehe…begitu yah? sejak tahun 2009 saya coba melalui medium cerpen untuk sisipkan pesan road safety. barangkali ingat artikel ini:
http://edorusyanto.wordpress.com/2009/06/10/belajar-dari-mereka/
http://edorusyanto.wordpress.com/2009/05/20/sirnanya-asa/
http://edorusyanto.wordpress.com/2009/06/01/c-h-a-o/
*merinding
ini real ?
ini fiksi, terinspirasi film pendek mas bro. salam.
ini malem sabtu eyang… artikel khas yudi dah keluar semalem
sejak tahun 2009 saya coba melalui medium cerpen untuk sisipkan pesan road safety. barangkali ingat artikel ini:
http://edorusyanto.wordpress.com/2009/06/10/belajar-dari-mereka/
http://edorusyanto.wordpress.com/2009/05/20/sirnanya-asa/
http://edorusyanto.wordpress.com/2009/06/01/c-h-a-o/
wooo, mangtebs. 2009 sih saya baru ngeh “naek” motor doank…
Meluncur ke tekapee..
Bagus eyang..
Ceritanya
ingat acara Miskista
miskista iku opo cak?
tak kira beneran om.. sampe merinding bacanya.. hehehe
niitp pak..
http://boerhunt.wordpress.com/2012/08/31/sorotan-buat-kai-dalam-layanan-mudik-lebaran-2012/
Makasih atensinya mas bro. Salam.
Yup…btl bgt merinding euuuyy…
Eyang Edo, bagus2 ceritanya, ada pembelajaran di sana.
Thanks….
aminnn…makasih mas bro. salam.
manteb neh kisahnya…
jadi merinding….
eh tugu tani kan baru setaun lewat nih ini si ojek dah duaa tahun lewat… update juga ya si ojek…
Pasti baca blog dia
, trims atensinya bro.
Ada bakat jga bikin artikel horor nie,eyang edo…
Lagi belajar kong. Makasih atensinya yah.
merinding….
nitip artikel mas..
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/09/01/kelembutan-hati-yang-terdalam/
suwun
hiii…..mbok ya fotonya jangan daerah satrio itu donk, Oom Edo….saya kan sering lewat situ kalo malem2…..
hehehe….
Mestinya terowongan aja yah
nnaah…kalo itu lebih ok, Oom Edo…sudah ada filmnya pulak lagi…jadi yang baca artikel bisa lebih menghayati