Langsung ke isi

Untuk Kalian Pemangku Kepentingan Mudik

23 Agustus 2012

HIDUP kita dibalut fakta dan data. Termasuk kehidupan di jalan raya. Data yang mengharu-biru dari jalan raya tak bisa lepas dari seputar bertumbangannya anak negeri akibat kecelakaan lalu lintas jalan.
Khusus dalam rentang arus mudik dan balik Lebaran 2012, data yang tersedia juga memiliki segudang makna. Saat saya menulis artikel ini, periode mudik belum rampung. Karena itu, data yang saya peroleh dari media massa, hanya hingga H+2, yakni rentang H-7 hingga H+2.
Sebagai ilustrasi, merujuk data Korps Lantas Mabes Polri yang dilansir stasiun Metro TV, dalam 10 hari terjadi 3.291kasus. Artinya, ada 329 kasus kecelakaan setiap hari.
Ironisnya, dalam rentang waktu itu, jumlah korban tewas mencapai sekitar 574 jiwa. Dengan begitu, rata-rata per hari ada 57 korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Jika dibandingkan periode sama pada 2011, korban tewas naik 5%.
Di sisi lain, data juga menunjukan tren peningkatan. Jumlah pemudik Lebaran 2012 atau 1433 H, menurut data kementerian perhubungan (kemenhub), naik sekitar 6% menjadi sekitar 28 juta dibandingkan Lebaran 2011.
Nah, sepeda motor menjadi alat transportasi paling banyak diminati. Kemenhub menyebutkan, sekitar 2,5 juta motor atau naik 6,16% dibandingkan 2011, yang dipakai untuk mudik.
Apa makna data-data tersebut? Apa yang mesti diperbuat para penanggung jawab keselamatan jalan? Bagaimana sikap yang harus dilakukan para pengguna jalan?


Akurasi dan Alternatif

Beberapa pertanyaan di atas tentu tak mudah menjawabnya. Sebagai langkah awal, perlu dipastikan pengumpulan data dilakukan secara akurat dan dengan mekanisme yang terstandar. Maklum, tingginya akurasi dan validitas data bisa menolong pembuatan analisis yang tepat sebagai fondasi pembuatan rekomendasi. Sebagai orang awam, ada beberapa harapan kepada berbagai pihak agar duka tak mendera anak negeri saat beraktifitas di jalan raya. Setidaknya, fatalitas bisa ditekan seminim mungkin.

Pertama, mengajak para pengguna jalan lebih hati-hati dan waspada, serta terus waspada saat berkendara. Menerapkan manajemen perjalanan yang tepat. Mulai dari persiapan kendaraan hingga memilih waktu istirahat yang pas agar selalu bugar sehingga berkendara dengan penuh konsentrasi.
Tentu saja dibarengi dengan kemauan menghargai dan mentaati aturan yang ada. Lalu, sudi berbagi ruas jalan dengan meredam emosi agar tak mengusik konsentrasi. Soal keterampilan berkendara menjadi mutlak demi kenyamanan dan keselamatan berkendara.
Aspek unjuk keberhasilan di tanah rantau dengan memamerkan kepemilikan kendaraan pribadi, juga perlu direduksi. Keberhasilan atau kesuksesan bisa diperlihatkan dengan berbagi pengetahuan dan mendistribusikan pendapatan.

Kedua, berharap kepada penanggung jawab penyelenggaraan transportasi terus berbenah. Mari wujudkan moda transportasi publik yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, serta terjangkau secara akses dan finansial.
Tak semata transportasi antar kota, tapi juga transportasi di desa. Mobilitas warga di desa tak kalah penting dengan yang menghubungkan kota-desa. Armada yang ada dipastikan layak beroperasi dengan awak kendaraan yang kredibel.
Simpul-simpul transportasi juga dibenahi. Terminal dan stasiun dibuat aman dan nyaman. Bersih dari praktik percaloan, kriminal, dan memiliki kebersihan yang akhirnya membuat penumpang merasa nyaman.

Ketiga, penyedia sarana dan prasarana atau infrastruktur jalan sudi bekerja lebih serius. Rambu, marka jalan, dan lampu penerangan mesti optimal. Kondisi jalan dipastikan layak dilintasi dan mendukung keselamatan transportasi jalan.

Keempat, penegakan hukum dilaksanakan secara tegas, konsisten, kredibel, dan transparan. Keamanan, kenyamanan, dan keselamatan berlalulintas jalan bisa diwujudkan dengan tegasnya petugas terhadap pelanggaran yang terjadi.

Kelima, sinergi di kalangan para pemangku kepentingan ditingkatkan. Soliditas diantara mereka menjadi kunci agar tujuan bisa dicapai. Karena itu, penting hadirnya sosok yang memimpin sinergisitas tersebut. Butuh pemimpin yang tegas, kredibel, dan transparan.
Harapan-harapan di atas bermuara pada satu titik, keselamatan lalu lintas jalan. Pelajaran amat mahal sudah kita tempuh. Pada 2011, setiap hari rata-rata korban tewas akibat kecelakaan sebanyak 86 jiwa.
Ayo, kita bisa. Mulai dari diri sendiri, sekarang juga. (edo rusyanto)

About these ads
8 Komentar leave one →
  1. sponge bob permalink
    23 Agustus 2012 04:04

    terlalu banyak kepentingan dari berbagai pihak atau instansi, jadi mereka ga peduli dengan kepentingan masyarakat…
    WANI PIRO???….

  2. 23 Agustus 2012 06:13

    Beberapa usul, batasi cc untuk motor massal atau entri level. Tindak tegas pemotor ABG. Pembatasan kecepatan secara ketat sesuai kelas jalan.

  3. 23 Agustus 2012 07:37

    kapan berbenah?? wong ban cacing aja ada koq yang buat mudik :(

  4. ihdaihda permalink
    23 Agustus 2012 11:02

    Setuju & dukung!

  5. 23 Agustus 2012 11:43

    semoga double track cepat selesai. . . dan tidak ada lagi tunas bangsa yang mati sia-sia dipantura . . . amin

    keep brotherhood,

    salam,

    • 23 Agustus 2012 11:49

      Aminnnnn….salam.

  6. 23 Agustus 2012 17:09

    mari berkendara dg aman dan lancar..

  7. 24 Agustus 2012 08:56

    IMHO, point no. 1 sangat penting (waspada red). Baru ngerasain sendiri bedanya berkendara di jalur commuter dan jalur “asing”. Cerita lengkapnya disini http://radhityaken.wordpress.com/2012/08/24/ngerinya-berkendara-di-jalur-asing/

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.296 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: