Langsung ke isi

Kita Belum Merdeka di Jalan Raya

17 Agustus 2012

JALAN raya masih mencekam. Kecelakaan lalu lintas jalan terus berjatuhan. Sebanyak 300 kasus terjadi setiap hari pada 2011. Duka anak negeri.
Data Korps Lalu Lintas Mabes Polri menyebutkan, pada 2011, setiap jam tiga orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku para pengguna jalan. Termasuk, para pesepeda motor.
Mengapa jalan raya kita seakan menjadi ladang pembantaian? Setiap jam tiga orang tewas akibat kecelakaan?
Yuk kita tengok seputar faktor manusia. Tidak tertib. Inilah faktor yang paling kerap dituding sebagai pemicu kecelakaan di jalan. Tak heran jika kemudian mencuat jargon, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan jaln.
Tidak tertib bermakna mengabaikan aturan yang ada dan berkendara ugal-ugalan. Tapi, kenapa pengendara menjadi tidak tertib? Boleh jadi karena kecenderungan ingin cepat sampai tujuan. Tergesa-gesa. Akibatnya, melibas aturan yang ada seperti melibas bahu jalan, melibas trotoar jalan, dan melawan arus kendaraan.
Kalau ditanya lebih jauh, kenapa harus tergesa-gesa? Jawabannya bisa beragam. Terlambat bangun tidur. Terlalu banyak pekerjaan, atau jenuh akibat stagnasi kemacetan lalu lintas jalan.
Unsur lain yang bisa memicu tidak tertib bisa jadi karena kurangnya penghargaan atas aturan yang sudah dibuat. Pernah dengar jargon, ‘Peraturan dibuat untuk dilanggar?’
Jargon itu seakan melegalkan pelanggaran terhadap aturan yang ada. Belum lagi alasan minor seperti KUHP, kasih uang habis perkara. Soal yang ini sudah menjadi virus di segala lini kehidupan masyarakat kita. Harus ada uang pelican.
Rasa menghargai sesama pengguna jalan, rasa menghargai aturan yang ada, hingga moralitas jalan pintas, bisa memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Di tengah 67 tahun Indonesia merdeka, 17 Agustus 2012, kok terasa belum merdeka di jalan raya. Merdeka dari rasa was-was. Merdeka dari rasa takut menjadi obyek atau subyek kecelakaan.

Kemerdekaan punya esensi menempatkan keadaban kita sebagai manusia di tempat yang luhur. Saling menghargai dengan berkendara yang sudi berbagi ruas jalan menjadi wujud penting soal keadaban tadi. Rasanya tak perlu ada 12 kasus kecelakaan tiap jam atau tiga orang tewas tiap jam akibat kecelakaan. Jika begitu, itulah esensi kemerdekaan di jalan raya. Bukan sebaliknya, berkendara sekehendak hati. Dirgahayu Indonesia! (edo rusyanto)

About these ads
6 Komentar leave one →
  1. 17 Agustus 2012 00:36

    Miris ya om kalau melihat beberapa kasus yg telah terjadi di jalan raya. Benar kita belum merdeka di jalan raya (–”)

  2. adiscashari permalink
    17 Agustus 2012 01:01

    Terus menjadi mata bagi para pengguna jalan om,, merdeka,,,

    • 17 Agustus 2012 01:03

      Merdeka dari moralitas jalan pintas yg bahayakan pengguna jalan. Semangatttt…

  3. 17 Agustus 2012 02:42

    Reblogged this on Suetoclub's Blog.

  4. 17 Agustus 2012 06:22

    setuju mbah
    http://pertamax7.wordpress.com/2012/08/17/dirgahayu-indonesiaku-hut-ri-ke-67/

  5. 17 Agustus 2012 21:03

    LAGI PANAS NI.. Trotoar di jakarta mo d gusur. ane baca dr forum sblah :D
    http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15224762

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.297 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: