Kita Belum Merdeka di Jalan Raya
JALAN raya masih mencekam. Kecelakaan lalu lintas jalan terus berjatuhan. Sebanyak 300 kasus terjadi setiap hari pada 2011. Duka anak negeri.
Data Korps Lalu Lintas Mabes Polri menyebutkan, pada 2011, setiap jam tiga orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Mayoritas pemicu kecelakaan adalah perilaku para pengguna jalan. Termasuk, para pesepeda motor.
Mengapa jalan raya kita seakan menjadi ladang pembantaian? Setiap jam tiga orang tewas akibat kecelakaan?
Yuk kita tengok seputar faktor manusia. Tidak tertib. Inilah faktor yang paling kerap dituding sebagai pemicu kecelakaan di jalan. Tak heran jika kemudian mencuat jargon, kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan jaln.
Tidak tertib bermakna mengabaikan aturan yang ada dan berkendara ugal-ugalan. Tapi, kenapa pengendara menjadi tidak tertib? Boleh jadi karena kecenderungan ingin cepat sampai tujuan. Tergesa-gesa. Akibatnya, melibas aturan yang ada seperti melibas bahu jalan, melibas trotoar jalan, dan melawan arus kendaraan.
Kalau ditanya lebih jauh, kenapa harus tergesa-gesa? Jawabannya bisa beragam. Terlambat bangun tidur. Terlalu banyak pekerjaan, atau jenuh akibat stagnasi kemacetan lalu lintas jalan.
Unsur lain yang bisa memicu tidak tertib bisa jadi karena kurangnya penghargaan atas aturan yang sudah dibuat. Pernah dengar jargon, ‘Peraturan dibuat untuk dilanggar?’
Jargon itu seakan melegalkan pelanggaran terhadap aturan yang ada. Belum lagi alasan minor seperti KUHP, kasih uang habis perkara. Soal yang ini sudah menjadi virus di segala lini kehidupan masyarakat kita. Harus ada uang pelican.
Rasa menghargai sesama pengguna jalan, rasa menghargai aturan yang ada, hingga moralitas jalan pintas, bisa memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan. Di tengah 67 tahun Indonesia merdeka, 17 Agustus 2012, kok terasa belum merdeka di jalan raya. Merdeka dari rasa was-was. Merdeka dari rasa takut menjadi obyek atau subyek kecelakaan.
Kemerdekaan punya esensi menempatkan keadaban kita sebagai manusia di tempat yang luhur. Saling menghargai dengan berkendara yang sudi berbagi ruas jalan menjadi wujud penting soal keadaban tadi. Rasanya tak perlu ada 12 kasus kecelakaan tiap jam atau tiga orang tewas tiap jam akibat kecelakaan. Jika begitu, itulah esensi kemerdekaan di jalan raya. Bukan sebaliknya, berkendara sekehendak hati. Dirgahayu Indonesia! (edo rusyanto)






Miris ya om kalau melihat beberapa kasus yg telah terjadi di jalan raya. Benar kita belum merdeka di jalan raya (–”)
Terus menjadi mata bagi para pengguna jalan om,, merdeka,,,
Merdeka dari moralitas jalan pintas yg bahayakan pengguna jalan. Semangatttt…
Reblogged this on Suetoclub's Blog.
setuju mbah
http://pertamax7.wordpress.com/2012/08/17/dirgahayu-indonesiaku-hut-ri-ke-67/
LAGI PANAS NI.. Trotoar di jakarta mo d gusur. ane baca dr forum sblah
http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=15224762