Motor Masih Menjadi Solusi

KESIBUKAN kota Jakarta tak pernah berhenti. Mulai matahari terbit, hingga matahari terbenam. Kampung besar berusia 485 tahun itu, tak pernah tidur. Denyut Jakarta mudah dideteksi lewat riuh rendah di jalan raya. Ribuan, bahkan puluhan ribu bergerak hilir mudik setiap hari. Maklum, Jakarta punya sedikitnya 12 juta kendaraan. Mayoritas adalah kendaraan pribadi. Baik roda dua, maupun roda empat. Sekalipun ada sekitar 20 ribuan bus dan lebih dari 10 ribu taksi, serta ribuan angkot, belum mampu mengakomodasi mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya. Setiap hari tak kurang dari 20 juta perjalanan di Jakarta. Kendaraan pribadi menjadi alternatif. Kabar yang saya peroleh, sekitar 60% perjalanan di Jakarta memanfaatkan kendaraan pribadi. Paling banyak tentu saja memakai sepeda motor. Si kuda besi dianggap masih lebih efisien dan efektif. Tentu saja lebih terjangkau kocek kebanyakan penduduk Jakarta. Sepeda motor dianggap masih lebih efektif dalam mensiasati karut marut lalu lintas jalan. Si roda dua bisa meliuk-liuk di kemacetan lalu lintas jalan. Lebih hemat dalam biaya operasional sehari-hari. Soal biaya harian, efisiensi motor lebih unggul dibandingkan dengan angkutan umum. Termasuk soal waktu tempuh. Sebagai ilustrasi. Biaya naik angkutan umum yang mesti dikeluarkan seorang pekerja dari pinggiran kota Jakarta, untuk bekerja di tengah kota, bisa berkisar Rp 20-30 ribu per hari. Sedangkan waktu tempuh berkisar 90-120 menit. Sebaliknya, pekerja yang memanfaatkan motor untuk bertransportasi, paling banter merogoh Rp 10 ribu per hari. Soal waktu tempuh berkisar 60-90 menit. Karena itu, tak heran jika ada sekitar delapan juta sepeda motor di Jakarta. Si roda dua jadi tumpuan alat transportasi. Sekalipun, di balik faedahnya, motor juga punya risiko cukup tinggi. Keterlibatan sepeda motor dalam kasus kecelakaan lalu lintas jalan masih dominan, berkisar 60-70%. Masuk akal, karena populasinya tinggi dan secara fisik lebih ringkih dibandingkan si roda empat. Dalam hal ini, kita para pemotor mesti sanggup memberdayakan diri. Berkendara yang aman dan selamat. Kuncinya ada pada pengendalian diri. Tidak mudah tersulut emosi sehingga merusak konsentrasi. Menghargai sesama pengguna jalan dan menghargai peraturan yang sudah dibuat. Tentu saja dilengkapi keterampilan berkendara yang memadai. Selama belum ada transportasi massal publik yang aman, nyaman, selamat, tepat waktu, dan terjangkau, sepeda motor masih menjadi solusi. Penyelenggara transportasi mestinya mudah mewujudkan hal itu. Tinggal kebijakan penyelenggara pemerintahan yang mesti komit dan berpihak pada kepentingan publik. Setuju? (edo rusyanto)




Kata pemerintah nggak apa2 banyak orang naik motor. Pajaknya lumayan, dan kalau kecelakaan, itung2 membantu program pemerintah memberantas orang miskin.
Yup kebijakan yg mengutamakan kepentingab umun..bukan pribadi dan atau parai serta golongan..
karut marutnya jalanan dan ga tersedianya angkutan umum yg memadai dan manusiawi itu sama pangkal permasalahannya dengan ga adanya infrastruktur di bbrapa daerah di luar jawa, ketidak-adaannya fasilitas medis gratis, ketidak-adaannya sekolah yang memadai dan persoalan2 lainnya.
satu bukti / contoh bahwa kepentingan pribadi dan golongan masih dominan…