Jakarta Butuh Rp 30 Triliun untuk Tambah Bus
BARU-BARU ini saya menumpang bus Transjakarta. Sejak dioperasikannya bus berjalur khusus itu pada 2004, sudah beberapa kali saya menikmati angkutan umum tersebut.
Kali ini yang terasa adalah betapa hiruk pikuknya penumpang bus bertarif Rp 3.500 itu. Tampaknya sudah butuh tambahan armada untuk membuat lebih nyaman para penumpang.
Armada bus di Jakarta jumlahnya masih kalah oleh kendaraan pribadi. Penduduk di kota berumur 485 tahun itu, lebih suka memanfaatkan kendaraan pribadi untuk bermobilitas. Kini, komposisi penggunaan angkutan pribadi lebih dominan ketimbang angkutan umum. Salah satu alasannya, angkutan umum tidak nyaman.
Sekadar gambaran, pada 2002, penggunaan angkutan umum mencapai sebanyak 61%, sedangkan pada 2010 tinggal 20%. Artinya, para pengguna jalan memilih kendaraan pribadi.
Untuk mengembalikan kondisi seperti tahun 2002, Danang Parikesit,ketua umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyebutkan, Jakarta butuh tambahan 20-30 ribu bus. Dana yang dibutuhkan tak tanggung-tanggung, sekitar Rp 30 triliun.
Saat ini, ada sekitar 22 ribu bus angkutan umum yang beroperasi di Jakarta. Coba bandingkan dengan jumlah mobil pribadi yang ditaksir sekitar dua juta unit. Jangan dibandingkan dengan sepeda motor yang menyentuh angka sekitar delapan juta unit.
Pemilih kendaraan pribadi menganggap transportasi publik belum nyaman. Kendaraan pribadi dianggap lebih nyaman dan efisien. Walau, tidak seluruhnya benar.
Apa yang saya rasakan ketika naik Transjakarta sesungguhnya cukup nyaman, sekalipun berdesakan. Hanya volume busnya saja yang masih minim sehingga waktu tunggu kendaraan bisa berkisar 30-40 menit. Maklum, saat ini, jumlah armada Transjakarta tak mencapai 1.000 unit.
Namun, penggunaan jalur khusus (busway) membuat angkutan bus Transjakarta terasa lebih nyaman. Lebih lancar ketimbang angkutan bus kota biasa. Sudah saatnya operator Transjakarta menambah jumlah armada, selain menambah jumlah koridor atau rute yang dijalaninya. Dari rencana awal 15 koridor, hingga pertengahan 2012, baru terwujud 11 koridor. Masih ada empat koridor lagi sehingga bisa menjangkau seluruh wilayah Jakarta.
Tujuan memindahkan penggunaan angkutan pribadi ke angkutan umum rasanya masih berjalan terseok-seok. Sejak 2004, tentu ada pergeseran penggunaan angkutan pribadi ke Transjakarta. Tapi, rasanya jumlah itu masih amat minim.
Andai angkutan umum yang tersedia di Jakarta sudah aman, nyaman, terjangkau, dan tepat waktu, perpindahan itu bakal lebih mudah. Kian sumpeknya jalan-jalan di Jakarta oleh kendaraan juga menimbulkan problem lain, yakni kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari, rata-rata tiga jiwa tewas sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya. (edo rusyanto)






wow ajib eyang angkanya
Ayo.. ikut Kompetisi Menulis Blog “Infiniti F1 Challenge”
http://stephenlangitan.com/archives/55860
wah nol nya itu yang ‘nggilani’…
Weleh2. nol nya itu yang nggilani…
Dear Vloggers, para Vloggers diwajibkan untuk mengisi data profil VIVAlog di VIVAsocio http://socio.viva.co.id/welcome . Ini untuk memunculkan foto Vloggers di tulisan yang dikirim.
Thanks.
, ijin menyimak dan nitip artikel mas
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/07/04/terus-dimana-posisi-kita/
terima kasih..