Langsung ke isi

Jakarta Butuh Rp 30 Triliun untuk Tambah Bus

3 Juli 2012

BARU-BARU ini saya menumpang bus Transjakarta. Sejak dioperasikannya bus berjalur khusus itu pada 2004, sudah beberapa kali saya menikmati angkutan umum tersebut.
Kali ini yang terasa adalah betapa hiruk pikuknya penumpang bus bertarif Rp 3.500 itu. Tampaknya sudah butuh tambahan armada untuk membuat lebih nyaman para penumpang.
Armada bus di Jakarta jumlahnya masih kalah oleh kendaraan pribadi. Penduduk di kota berumur 485 tahun itu, lebih suka memanfaatkan kendaraan pribadi untuk bermobilitas. Kini, komposisi penggunaan angkutan pribadi lebih dominan ketimbang angkutan umum. Salah satu alasannya, angkutan umum tidak nyaman.
Sekadar gambaran, pada 2002, penggunaan angkutan umum mencapai sebanyak 61%, sedangkan pada 2010 tinggal 20%. Artinya, para pengguna jalan memilih kendaraan pribadi.
Untuk mengembalikan kondisi seperti tahun 2002, Danang Parikesit,ketua umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyebutkan, Jakarta butuh tambahan 20-30 ribu bus. Dana yang dibutuhkan tak tanggung-tanggung, sekitar Rp 30 triliun.
Saat ini, ada sekitar 22 ribu bus angkutan umum yang beroperasi di Jakarta. Coba bandingkan dengan jumlah mobil pribadi yang ditaksir sekitar dua juta unit. Jangan dibandingkan dengan sepeda motor yang menyentuh angka sekitar delapan juta unit.
Pemilih kendaraan pribadi menganggap transportasi publik belum nyaman. Kendaraan pribadi dianggap lebih nyaman dan efisien. Walau, tidak seluruhnya benar.
Apa yang saya rasakan ketika naik Transjakarta sesungguhnya cukup nyaman, sekalipun berdesakan. Hanya volume busnya saja yang masih minim sehingga waktu tunggu kendaraan bisa berkisar 30-40 menit. Maklum, saat ini, jumlah armada Transjakarta tak mencapai 1.000 unit.

Namun, penggunaan jalur khusus (busway) membuat angkutan bus Transjakarta terasa lebih nyaman. Lebih lancar ketimbang angkutan bus kota biasa. Sudah saatnya operator Transjakarta menambah jumlah armada, selain menambah jumlah koridor atau rute yang dijalaninya. Dari rencana awal 15 koridor, hingga pertengahan 2012, baru terwujud 11 koridor. Masih ada empat koridor lagi sehingga bisa menjangkau seluruh wilayah Jakarta.
Tujuan memindahkan penggunaan angkutan pribadi ke angkutan umum rasanya masih berjalan terseok-seok. Sejak 2004, tentu ada pergeseran penggunaan angkutan pribadi ke Transjakarta. Tapi, rasanya jumlah itu masih amat minim.
Andai angkutan umum yang tersedia di Jakarta sudah aman, nyaman, terjangkau, dan tepat waktu, perpindahan itu bakal lebih mudah. Kian sumpeknya jalan-jalan di Jakarta oleh kendaraan juga menimbulkan problem lain, yakni kecelakaan lalu lintas jalan. Setiap hari, rata-rata tiga jiwa tewas sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya. (edo rusyanto)

About these ads
6 Komentar leave one →
  1. 3 Juli 2012 13:15

    wow ajib eyang angkanya :D

  2. 3 Juli 2012 20:46

    Ayo.. ikut Kompetisi Menulis Blog “Infiniti F1 Challenge”
    http://stephenlangitan.com/archives/55860

  3. 4 Juli 2012 07:11

    wah nol nya itu yang ‘nggilani’…

  4. 4 Juli 2012 07:12

    Weleh2. nol nya itu yang nggilani… :)

  5. 4 Juli 2012 13:50

    Dear Vloggers, para Vloggers diwajibkan untuk mengisi data profil VIVAlog di VIVAsocio http://socio.viva.co.id/welcome . Ini untuk memunculkan foto Vloggers di tulisan yang dikirim.

    Thanks.

  6. 4 Juli 2012 15:26

    , ijin menyimak dan nitip artikel mas
    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/07/04/terus-dimana-posisi-kita/

    terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.239 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: