Ada Tutut di Taman Mini

BANYAK orang tahu, gagasan mendirikan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) atau Taman Mini, tak bisa dipisahkan dari Ibu Tien. Mendiang isteri mantan presiden Soeharto itu, amat mewarnai berdirinya Taman Mini, sebuah wahana budaya Nusantara. Taman yang terletak di Jakarta Timur itu, menjadi pilihan warga Jakarta untuk berwisata. Mulai anak-anak hingga orang dewasa. Kini, jalan utama menuju pintu masuk Taman Mini terbentang lebar dan mulus. Banyak pedagang memanfaatkan area itu untuk mengais rejeki. Mereka bukan pedagang biasa yang semata mengandalkan gerobak dorong. Mereka yang berdatangan dari kota di sekitar Jakarta membawa mobil untuk menggelar dagangan mereka. Umumnya mobil jenis multi purpose vehicle (MPV). Nah, makanan merupakan dagangan yang paling banyak dijajakan mereka. Salah satunya, tutut. Inilah makanan tradisional yang banyak diburu konsumen lantaran kabar khasiatnya. Selain, tentu saja rasanya yang gurih. “Saya suka yang memakai bumbu kunyit,” kata seorang penggemar tutut, saat berbincang dengan saya, baru-baru ini. Tutut atau siput, makanan berbentuk mirip keong. Bentuknya kecil seukuran uang koin 100 rupiah . Cangkangnya keras. Dagingnya tersembunyi di balik cangkang. Untuk mengambilnya bisa dicukil atau disedot. Bumbu yang berbaur dengan air rebusan tutut menambah aroma sedap saat menyedot tutut. Satu porsi mangkok kecil tutut Rp 3.000. Bisa disantap di tempat atau dibungkus bawa pulang. Seperti saya lihat sore itu, ada beberapa pemotor dan pemobil yang makan di tempat dan beli bungkusan. “Sehari saya bisa menjual ratusan bungkus,” ujar seorang pedagang. Dia cerita, tutut yang dijualnya dibeli dari pedagang besar di Bogor. Tutut sudah matang. Tinggal diecer di Taman Mini. Pedagang di Taman itu tak sedikit. Saat saya melintas di sana, ada sembilan mobil yang membuka lapak. Pernah saya lihat, lebih dari itu. Mereka berjajar di kanan dan kiri jalan. “Kalau lagi ramai, bisa belasan mobil,” tutur sang pedagang. Para pedagang buka lapak berkisar pukul 12.00-21.00 WIB. Kecuali hari hujan, pada kondisi cuaca normal ramai pembeli singgah. Setiap hari, kata sang pedagang, mesti merogoh Rp 9.000 untuk tiga pungutan. “Yah terjangkau sih, namanya juga dagang di tempat umum,” kata dia. (edo rusyanto)




ngabisin bibir jalan nih…
berasa kalo sore pas jam pulang kantor
makin semrawut mbah…. sepanjang jalan TMII, selepas lamer garuda sampe pintu masuk TMII. kenapa tidak ditertibkan ya……
Mungkin dinas perhubungan dan instansi terkait tdk melihat hal itu. Salam.
mereka udh bayar 9 rebu sih buat pungli. jadi ga di tertibin deh… ntar petugasnya ga dapet pemasukan klo gtu…
sangat sayang sekali yah, di fasilitas umum seperti jalan raya ada orang yang memanfaatkan bahu jalan untuk keuntungan pribadinya…
barangkali memang belum melihat,..dan kalaupun melihat biasanya ditarikin retribusi dadakan
ijin menyimak dan nitip tulisan mas
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/07/02/siapa-yang-peduli-sesama/
terima kasih
kalo bisa jangan di taman mini semua dunkz…..
kasian yang jauh kan kalo lg kepingin….. daerah selatan gitu misalnya lebak bulus……..