Safety Riding Pekerja Pabrik Serat Ban
PARA pekerja pabrik itu sibuk menyimak. Mereka duduk tertib dan aktif menanyakan paparan yang dianggap belum jelas. Bahkan, pada sesi praktik pun antusiasme tak luntur di tengah terik cuaca. “Bagaimana pengereman yang baik?” Tanya Tulus, salah seorang peserta dari PT Indo KordsaTbk, di Citeureup, Bogor, Minggu (1/7/2012) siang. Dia adalah salah satu dari 19 peserta pelatihan ‘Safety Riding Awarness’ yang digelar Indo Kordsa dengan Road Safety Association (RSA). Pelatihan yang pertamakali digelar produsen komponen ban itu, dibuat secara sukarela. “Mereka sukarela. Jika diwajibkan maka pihak manjemen harus bayar lembur,” jelas Yoga Mardiansyah Fasyah, company doctor and SHE Manager Indo Kordsa, saat berbincang dengan saya di sela pelatihan, Minggu. Indo Kordsa yang semula bernama PT Branta Mulia Tbk itu, memiliki sekitar 1.000 pekerja. Perusahaan ini memproduksi serat-serat ban kendaraan. Ada dua tipe yang diproduksi, yakni nylon dan polyester. Indo Kordsa memasok 30% kebutuhan serat nylon dunia. Pelatihan yang digelar mencakup teori dan praktik. Dari segi teori, RSA mengedepankan aspek perilaku berkendara yang aman dan selamat. “Tentunya harus dibarengi ketaatan pada aturan,” jelas Rio Octaviano, ketua umum RSA, Minggu. Saat kesempatan menyampaikan materi, saya menekankan pada aspek pencegahan kecelakaan dari lingkungan keluarga. Keluarga menjadi garda terdepan menanamkan petilaku berkendara yang aman dan selamat.
Saya juga coba ingatkan soal tingginya risiko bersepeda motor yang ugal-ugalan. Setiap hari rata-rata ada 300 kasus kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia pada 2011. Keterlibatan sepeda motor cukup tinggi yakni sekitar 72%. Sedangkan dari aspek fatalitas, dari rata-rata 68 korban tewas tiap hari, sebanyak 30 adalah para pemotor. Karena itu, tak bisa ditawar-tawar lagi, para pemotor harus memberdayakan diri agar dapat selamat saat berlalu lintas jalan. Perilalu tertib dan taat aturan harus dilengkapi dengan keterampilan memadai. “Tapi petugas juga harus bertindak tegas dong,” ujar Chondro, salah seorang peserta. Menurut dia, kondisi lalu lintas jalan karut marut, saling serobot, sedangkan polisi tidak tegas. “Mereka yang tadinya tertib juga bisa terbawa jadi tidak tertib,” katanya. Saat materi praktik, Syamsul yang juga Badan Pengawas RSA menerangkan pentingnya memeriksa motor sebelum berkendara sekaligus memimpin jalannya pelatihan praktik keterampilan bermotor seperti keseimbangan, mengerem, dan slalom. Bagi saya, pelatihan keselamatan jalan bagi para pekerja di pabrik menjadi penting. Terlebih mereka banyak yang memakai sepeda motor. “Sampai Juni, ada dua kasus kecelakaan motor yang menimpa pekerja,” kata Eko, dari departemen Safety, Health, and Environment (SHE) Indo Kordsa, saat berbincang dengan saya, Minggu. Dia bercerita, kali ini adalah pelatihan yang pertama. Pelatihan sebagai upaya untuk mengurangi kecelakaan lalulintas. Selain itu, kami menerapkan aturan wajib pakai helm naik motor memasuki area pabrik. “Untuk meminimalisasi risiko. Belum ada sanksi bagi pelanggar,” jelas dia. Pelatihan kali ini, Minggu (1/7/2012) adalah pelatihan pertama dari empat pelatihan yang digelar berkala antara RSA dengan Indo Kordsa. (edo rusyanto)




positif
Manntappp.. Safety Riding sudah menjadi kebutuhan bahkan kewajiban *sukses RSA
Makasih atensinya bro. Salam.
ajib eyang…
wah, ada sayah
http://sociusrider.wordpress.com/2012/07/02/akankah-yang-seperti-ini-marak-juga-di-indonesia/