Segelas Teh Udara Rp 15 Ribu
PENGALAMAN ini tak terlupakan. Gara-gara tidak teliti, lari terbirit-birit mengejar waktu. Eh, kehilangan duit pula. Menyesakkan.
Ya. Pagi itu, pertengahan Juni 2012,saya harus terbang ke Balikpapan, Kalimantan Timur dalam rangka tugas kantor. Tiket di tangan. Perjalanan dari rumah ke bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, cukup lumayan lancar. Di tol dalam kota Jakarta agak terbantu oleh penerapan lajur melawan arah (contra flow). Jurus mengurai kemacetan di jalan tol itu lumayan melegakan.
Lantaran tak memeriksa dengan teliti dan belum pernah icip-icip Citilink Garuda, cerita menyesakkan pun dimulai saat antre check in. Sekitar 10 menit antre di loket chek in Garuda terminal 2 F. Giliran saya tiba.
”Maaf pak, ini tiket Citilink, check in-nya di terminal 1C,” ujar sang wanita penjaga loket.
Duh. Setelah bertanya dimana dan bagaimana menuju terminal yang dimaksud, saya pun terbirit-birit. Maklum, waktu tersisa 35 menit menjelang keberangkatan. Padahal, jarak dari terminal 2F menuju terminal 1C Bandara Soetta, cukup lumayan. Butuh waktu agak lama, berkisar 10-15 menit jika terjadi antrean kendaraan.
Oh ya, ada dua cara menuju terminal 1C. Pertama, antre menunggu bus bandara berwarna kuning yang datang secara periodik. Kedua, naik taksi. Nah, saya pilih naik taksi. Menunggu bus tadi butuh waktu lagi.
Ternyata tak semudah yang dibayangkan mencari taksi untuk ke terminal 1C. Saya sempat ditolak beberapa pengemudi taksi. Padahal, dari logo mobilnya, itu perusahaan besar yang mengaku mengutamakan kepuasan konsumen. Entah dia menolak karena dilarang mengangkut penumpang di dalam area bandara kecuali di lokasi yang ditentukan. Atau, karena memang jaraknya terlalu dekat. Ya. Paling banter argo taksi hanya Rp 10.000 seperti yang saya alami.
Kopi Udara
Kalau kopi darat (kopdar) sudah biasa. Lazim dilakukan para anggota komunitas dunia maya. Nah, kalau beli kopi di udara, jarang-jarang.
”Citilink Garuda itu penerbangan low cost carrier (LCC) pak,” cerita penjaga loket check in di terminal 1C.
Wah, kurang gaul saya. Belum pernah naik Citilink Garuda. Apa sih LCC? Ternyata itu adalah penerbangan berbiaya murah. Maksudnya, harga tiket lebih murah dibandingkan jasa penerbangan udara kelas ekonomi apalagi kelas bisnis penerbangan reguler. Bedanya bisa puluhan persen loh.
Disebut LCC karena memang sang maskapai tidak menyediakan fasilitas yang biasanya diterima penumpang saat terbang di kelas ekonomi. Eng ing eng… Tidak ada makanan dan minuman ringan gratis. Semua harus beli. Pasalnya, harga tiket yang dibayar konsumen memang hanya untuk jasa penerbangan. Buat yang pergi tergesa-gesa sehingga belum sempat sarapan, siapkan uang cukup untuk membeli makanan dan minuman di pesawat. Ssssttt…harganya bisa berlipat dibanding warung kopi biasa loh.
Saya memilih membeli segelas teh hangat dan sepotong roti untuk mengganjal perut. Teh dibanderol Rp 15 ribu, sedangkan roti Rp 10 ribu. Kalau yang mau pilih menu nasi goreng, siapkan uang Rp 35 ribu. Untuk air minum dalam kemasan ukuran 330ml, Anda tambah Rp 5.000.
Supaya lebih detail soal harga-harga makanan dan barang yang dijual maskapai, jangan sungkan meminta daftar harga ke awak kabin. Maklum, daftar harga kadang tidak ada di depan kursi tempat kita duduk.
LCC menjadi jurus para maskapai menggaet calon penumpang. Harga tiket penerbangan menjadi lebih murah dari biasanya. Bahkan, ada yang hampir sama dengan harga tiket kereta api.
Penerbangan berbiaya murah seperti yang saya lihat di Citilink Garuda, memakai pesawat Airbus A 320 dan Boeing 737-300. Semua tempat duduk dibuat sama. Tidak ada istilah kelas bisnis.
Wanita awak kabin akan memperagakan pemakaian pelampung, lokasi pintu darurat, dan pemakaian masker udara. Sekalipun ada monitor tv di Boeing 737-300, alat itu tidak difungsikan untuk memperagakan alat-alat keselamatan dalam penerbangan. Nganggur. Namanya, juga LCC.
Buat yang suka membaca, tidak disediakan koran atau majalah udara seperti kita naik pesawat udara Garuda di kelas ekonomi atau bisnis. Tidak ada hiburan film atau musik. Tidak ada permen gratis. Tidak disediakan kantong sampah. Para awak kabin menjelang tinggal landas bakal keliling memunguti sampah yang ada di dekat penumpang.
Nah, tipsnya buat Anda yang mau bepergian dengan Citilink Garuda, harus perhatikan beberapa hal. Pastikan bahwa Anda di terminal yang benar. Citilink ada di terminal 1C Bandara Soetta. Lalu, sediakan uang pas untuk membeli makanan dan minuman. Mintalah daftar harga untuk memastikan biaya yang harus dibayar. Buat yang suka baca saat penerbangan, silakan bawa koran atau majalah sendiri-sendiri. Termasuk, yang butuh permen saat take off, silakan kantongi dari rumah.
Selamat mencoba terbang dengan Citilink. Murah sih. (edo rusyanto)








ada ada aja, xixix
. hati2 di jalan
http://pertamax7.wordpress.com/2012/06/23/inna-lillahi-wa-inna-ilaihi-rajiun-saya-mengalami-kecelakaan-menyerempet-pak-haji/
Prihatin atas kecelakaannya mas bro.
sayangnya ga ada flight jakarta-gorontalo
kalo bawa makanan dan minuman dari luar boleh gak pak??? Ato kayak bioskop, harus beli didalem???
Boleh dong. Niatnya nanti saya juga mau bawa dari luar aja.
Kang edo dapet tiket dengan harga berapa??
Sapa tau buat referensi ane,kang..
Hehehehe.
Jkt-Balikpapan pp Rp 1,154 juta.
akua2 mijon2 kacang2
air asia ga boleh bawa makanan dari luar,nyesek ToT
Pramugarinya merangkap pedagang asongan yah, Pak Edo…. Hehehe
Mereka melayani penumpang yg mau beli makanan dan minuman, hehehehe
dulu saya pernah naik SQ paramugarinya orang bandung ramah tamah dan terus ngasih makan terus sampai keyang malah minta nasi buat di bawa pulang di bungkusin