Lanjut ke konten

Wah, Rambu Tertulis Diganti Lampu

3 Mei 2012

NEGARA wajib melindungi keselamatan warga negaranya. Termasuk, saat warga sedang berlalu lintas jalan. Salah satu bentuk konkret perlindungan negara adalah dengan pembuatan rambu, marka, dan lampu isyarat jalan.
Nah, di pertigaan lampu merah Cibubur, Jakarta Timur dengan Jl Raya Bogor, kini ada pemandangan lain lagi. Setelah sebelumnya pernah saya tulis di artikel “Belok Kiri Langsung”, pada 12 April 2012, situasi di kawasan tersebut kini berubah lagi. Pemerintah daerah (pemda) mengganti rambu tulisan ‘Belok kiri langsung’ dengan lampu pengatur lalu lintas jalan. Lampu yang kondang disebut lampu merah (lamer) itu, kini menjadi patokan bagi pengguna jalan saat hendak berbelok ke kiri.
Biasanya, sebelum ada rambu tertulis, para pemakai jalan saat hendak berbelok ke kiri langsung-langsung saja. Semestinya, jika merujuk Undang Undang (UU) No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), hal itu tidak boleh dilakukan. Pasal 112 ayat (3), UU tersebut menyebutkan, pada persimpangan jalan yang dilengkapi alat pemberi isyarat lalu lintas, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas.

Nah, rambu tersebutlah yang seharusnya membolehkan pemakai jalan belok kiri langsung. Kini, dengan hadirnya lamer di pertigaan itu, para pengguna jalan yang hendak ke kiri harus mengikuti isyarat lamer. Jika lamer berwarna merah, praktis yang hendak ke kiri harus menanti.
Bagaimana faktanya di lapangan? Baru-baru ini, di penghujung April 2012, saat saya melintas di pertigaan itu, banyak pemakai jalan yang bablas. Maksudnya, saat berbelok ke kiri mengabaikan lamer tersebut. Masih dengan kebiasaan lama, belok kiri langsung.
Pengaturan belok kiri langsung atau tidak langsung salah satunya bertujuan melindungi pejalan kaki yang hendak menyeberang. Selain itu, tentu saja agar lalu lintas jalan menjadi lebih tertib. Nah, khusus di pertigaan Cibubur, ada problem lain. Persis di sudut belokan ke kiri justeru kerap jadi tempat angkutan umum berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Nah loh! (edo rusyanto)

About these ads
19 Komentar leave one →
  1. 3 Mei 2012 00:10

    Jadi kalo gak ada tulisan “Belok Kiri Langsung” harus nunggu lampu hijau?

    • 3 Mei 2012 00:11

      Setahu saya begitu bro. Salam.

  2. 3 Mei 2012 01:19

    Pencerahan dan pencerdasan berlalulintas mantap eyang :)

  3. 3 Mei 2012 01:22

    Eyang jam 1 malam blm tidur apa tugas ngeroda ni sekalian bikin artikel :D

  4. Karis permalink
    3 Mei 2012 07:18

    berarti sudah tidak boleh langsung kali mas

    • 3 Mei 2012 09:30

      Ya, harus ikut warna lampu.

  5. 3 Mei 2012 07:18

    hal unik bin ganggu……angkot ber”kebiasaan” berhenti dibelokan lamer……

    http://beckhem.wordpress.com/2012/05/02/contra-flow-sudahkah-belajar-dari-tol-kebun-jeruk/

  6. 3 Mei 2012 08:17

    malah bikin bingung
    http://pertamax7.wordpress.com/2012/05/03/yamaha-mio-yamaha-v-ixion-yamaha-byson-dan-suzuki-satria-fu-jadi-incaran-maling/

  7. Xsal Revolve permalink
    3 Mei 2012 10:47

    ane kalu pake motor belok kiri langsung tuh…. bukannya dari dulu begono dilamer itu…. soalnya lampu hijaunya cepet banget… dah gitu pas hijau yg mau belok kekiri kehambat ama angkot yg ngetem di mulut pertigaan… kan jadi serba salah apalagi yg harus buru2… dah gitu jika berenti (ikutin aturan lamer) pasti diklaksonin ama yg dibelakang suruh jalan terus…. makin galau dagh… hahaha….

    • 3 Mei 2012 10:50

      Mestinya petugas mengurai penumpukan di sudut belokan ke kiri. Sebelum tahun 2009, disitu belok kiri bisa langsung.

  8. Hendro permalink
    3 Mei 2012 11:04

    Yang saya bingung di perempatan radin inten (kanal banjir timur) dari arah Kol. Soegiono mau belok kiri kearah Buaran disana ada lampu merah khusus untuk yang belok tetapi ada juga plang boleh belok kiri langsung, nah yang harus diikuti yang mana???

    • 3 Mei 2012 11:08

      Setahu saya yg diikuti rambu tertulis bro. Tulisannya, “Belok kiri langsung” bukan?

      • Hendro permalink
        3 Mei 2012 11:23

        wooooh… bgitu ya mbah. Tapi kalau saya lihat jika yang dari jembatan KBT hijau dan mau lurus ke arah buaran pasti jadi semrawut karena terhambat dengan kendaraan yang langsung belok kiri. he he soalnya pengalaman mbah masa di lampu merah bisa nunggu sampe 4x merah, sempet klo ngopi dulu…

        • 3 Mei 2012 11:24

          hihihihihi…gak bener tuh lamernya.

  9. 3 Mei 2012 15:22

    penempatan yang salah utk tulisan “belok kiri langsung” harusnya dipasang dibawah lamer, memang jadi membingungkan..tp kalo sy mending bablas, krn lampu merahnya hanya bulet, bukan tanda panah ke kiri, alias tidak spesifik tidak boleh kekiri, jadi aturan yg berlaku adalah tulisan itu.. IMHO om

    http://boerhunt.wordpress.com/2012/04/26/ente-kaya-raya-tapi-tetep-pengen-pake-bbm-bersubsidi-beli-mobil-sport-mewah-ini/

  10. 3 Mei 2012 15:44

    niti artikel mas
    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/05/03/ketulusan-cinta-yang-indah/

    semoga bermanfaat.

  11. 5 Mei 2012 12:54

    seharusnya ada lampu pengendali arah kiri yg seperti lampu lalu lintas pd umumnya tetapi dibuat menyerupai tanda panah arah kiri.

  12. 5 Mei 2012 14:01

    rada oot
    kok lampu lalu lintas suka di sebut lampu merah ya ? :) padahal warnanya kan bukan hanya merah wkwkwkwkw :)

  13. 5 Mei 2012 21:37

    yg penting edukasi n kesadaran pemakai jalan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.096 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: