Pakai Sirbo, Menteri Sulit Tembus Kemacetan
KEMACETAN lalu lintas jalan di Jakarta menjadi makanan sehari-hari. Siapa pun yang tinggal di Jakarta atau berkunjung ke Ibu Kota Republik Indonesia itu, bakal mencicipi peliknya kemacetan lalu lintas. Pasti banyak yang gelisah.
Bagi saya selaku pemotor, cuma bisa mencoba menikmati kemacetan yang ada. Ketika menjadi rutinitas, ternyata tidak terlalu menjadi beban. Sudah terukur. Jarak tempuh sekitar 20 kilometer (km) bakal ditempuh sekitar 60 menit. Nikmati aja.
Tak mudah mengurai kemacetan lalu lintas jalan. “Saya saja yang memakai sirene dan strobo, sulit menembus kemacetan,” sergah Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, saat berbincang-bincang di Jakarta, Senin (26/3/2012) siang.
Sepengetahuan saya, iring-iringan menteri selain dibuka oleh voorijder sepeda motor juga ditutup dengan satu mobil pengawal. Kedua kendaraan pengawal itu dipasangi sirene dan strobo. Tot tot tot.
“Dari kantor saya menuju Istana Presiden, butuh waktu sekitar satu jam. Saya telat sampai istana,” cerita sang Menteri.
Padahal, jarak tempuh kantor Menpera di kawasan Blok M menuju Istana Presiden, di Jl Medan Merdeka, tak lebih dari 10 km. Namun, lantaran kemacetan yang luar biasa pada pagi dan sore hari, waktu tempuh boleh jadi mencapai satu jam.
Salah satu pemicu kemacetan lalu lintas jalan adalah jumlah populasi kendaraan yang tinggi. Di Jakarta, tak kurang dari 12 juta kendaraan yang terdiri atas roda dua dan roda empat. “Pemerintah salah, tidak bikin transportasi publik, sehingga masyarakat pakai kendaraan pribadi,” tukas sang Menteri.
Karena itu, kata dia, sudah sepatutnya layanan busway Transjakarta digenapi menjadi 15 koridor seperti rencana awal pada 2004. Kini, jumlah busway sebanyak 11 koridor dengan jumlah bus sekitar 500-an unit. “APBD Jakarta sebenarnya cukup, yakni Rp 36 triliun,” ujar Djan Faridz.
Guna mengurangi kemacetan, lanjutnya, sang Menteri berniat membangun rumah susun untuk rakyat di tengah kota, yaitu Kemayoran, Jakarta Pusat. “Hal itu, untuk mengurangi kemacetan di Jakarta. Saat ini, kondisinya terbalik. Orang yang punya uang tinggal di tengah kota, sedangkan yang tidak punya uang tinggal di pinggiran,” kata dia.
Ya. Isu kemacetan lalu lintas jalan menjadi komoditas politik yang cukup seksi. Mulai dari calon gubernur DKI Jakarta hingga Wakil Presiden. (edo rusyanto)






Menteri pakai sirine strobo?
GOBLOK…!!
Gila kekuasaan dan keutamaan di jalan.
Dari komennya kelihatan siapa yg sebenarnya goblog.
trus yg goblok siapa?
ayo ngacung…..
absen
iya mbah nikmati aja macet-nya, santai, kl perlu istirahat sebentar sambil melihat pemandangan macet
yang sering tak lihat tuh mereka Ngambil bahu jalan, memang sih orang penting, tapi mereka lupa menyediakan transportasi yang layak, aman, murah, tepat waktu. bukannya masyarakat ngdoain tapi malah nyumpahin, paling g ngdumel…….!!!!!
BENY:mendingan dahlan iskan dong kalo gitu
yang ente kata2in ngojek sebagai pencitraan
payah loe ben kalau semua orang loe katain gitu
siapapun yg udah terjebak macet…mao menteri kek…mao ambulan…hrs menikmatinya
nikmati kemacetan dan kesemrawutan… susah cari yang salah.. hehe
prasarana jalan yang layak dan alat transportasi yang nyaman memang sudah harga mati untuk mengatasi kemacetan Jakarta
http://www.sejutaumat.com/2012/03/27/tetap-waspada-hari-ini-adalah-puncak-demo-kenaikan-bbm/
nitip mas
http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/03/27/zulfah-ijinkan-aku-meminangmu/
terima kasih..
kalo gitu mending biker ya mbah…. xixixi
kalo biar nggak telat ya berangkat lebih awal pak menteri. kita kan sama-sama bayar pajak
parah
http://pertamax7.wordpress.com/2012/03/28/kopdar-dengan-owner-honda-megapro-2005-22-hp/
Kalau cuma pejabat mau berangkat kantor, gue juga ogah minggir. Kecuali ada orang sakit atau orang mati pakai sirine, baru gue minggir. Atau ini pejabat sakit juga? Sakit jiwa maksudnya. Kalau nggak mau telat, berangkat lebih pagi, nggak usah pakai sirine segala. Atau ambulan sekarang wujudnya sedan ya? Khusus pasien gila hormat.
Plat hitam kok pake strobo? Aturannya kan gak boleh. Biar menteri sekalipun, taat donk