Langsung ke isi

Tanpa Peran Publik, Berantakan Negeri Ini

26 Maret 2012

FAKTA berbicara, mayoritas korban kecelakaan lalu lintas jalan adalah usia produktif. Tanpa gerakan yang serius, kecelakaan terus menjadi jagal yang menggerogoti generasi penerus negeri ini. Haruskah kita berpangku tangan?
Kasus Fauzi yang tewas Januari 2012 akibat tabrakan, sedangkan istrinya, Tati, dan anaknya, Tiara, luka parah. Atau, kasus Afriyani yang menewaskan sembilan pejalan kaki di Jakarta awal 2012, membuka mata kita, jalan raya bisa menjadi mesin pembunuh.
Tahun 2011, sedikitnya 31.000 jiwa tewas akibat kecelakaan lalu lintas jalan di Indonesia. Angka itu tak berbeda jauh dengan korban tahun 2010 yang mencapai 31.234 jiwa. Miris.
Mayoritas korban adalah usia produktif, termasuk usia muda. Dari segi kendaraan, sepeda motor menjadi korban yang terbesar. Ironisnya, pemicu utama adalah faktor manusia alias perilaku berkendara para pengguna jalan.

Pada titik ini, pemerintah dan para pemangku kepentingan keselamatan jalan bak kehabisan akal. Apalagi yang mesti dilakukan agar kecelakaan turun signifikan. Terutama agar korban jiwa bisa direduksi habis-habisan. Setelah berputar-putar diskusi kesimpulan yang hampir seragam mengerucut pada satu titik, butuh peran publik. Di segala lini. Khususnya peran preventif agar tak terjebak dalam insiden kecelakaan.

Pemerintah didesak agar membuat kebijakan dan sinergi yang kuat untuk mengurangi kecelakaan jalan. Mulai dari membuat jalan yang layak dilintasi, membangun moda transportasi yang aman, nyaman, selamat, terjangkau, dan tepat waktu, hingga penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Soal yang ini, terkait dengan jargon bahwa kecelakaan kerap kali diawali oleh pelanggaran aturan lalu lintas jalan. Sehingga, jika penegakan hukum berjalan tegas dan konsisten, pelanggaran bisa ditekan dan ujungnya peluang kecelakaan pun mengecil. Lagi-lagi, pemerintah masih dianggap belum maksimal walau sudah punya segudang rencana seperti tertuang di dalam Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan.

Publik atau masyarakat mesti memberdayakan dirinya. Mulai dari melengkapi perlindungan diri saat berkendara, lalu keterampilan berkendara, hingga memahami aturan yang ada. Kata kuncinya tetap pada perilaku berkendara. The man behind the gun.

Upaya memberdayakan diri tak hanya orang per orang. Ada komunitas-komunitas yang aktif untuk saling mengingatkan. Saling meningkatkan perilaku berkendara yang aman dan selamat.
Di era teknologi informasi yang canggih saat ini, jejaring media sosial pun bisa ambil peranan penting. Pesan-pesan keselamatan jalan, gambar, foto, bahkan video bisa diunggah untuk saling mengingatkan. Ada bahaya mengincar di jalan raya.
Semangat publik yang peduli untuk meningkatkan kualitas hidup lewat berkendara yang aman dan selamat butuh kesadaran kuat dari tiap-tiap individu. Kesadaran seluruh lapisan masyarakat. Mulai lapis bawah, menengah, hingga atas.
Dalam keseharian, tidak semua anggota masyarakat memiliki kepedulian kepada persoalan keselamatan jalan. Lumrah. Ada yang menganggap kecelakaan adalah takdir. Bagi yang peduli beralasan, kecelakaan bisa dikurangi fatalitasnya. Peluang kecelakaan bisa diperkecil. Masing-masing punya pilihan. Bagi saya, jika masih ada masyarakat yang peduli, itu bagian dari ikhtiar agar hidup semakin jauh dari kecelakaan di jalan. Maklum, sekitar 60% korban kecelakaan kena dampak ekonomi. Artinya, kecelakaan bisa merusak kehidupan ekonomi sebuah keluarga.

Pilihan untuk berikhtiar ada di tangan kita masing-masing. Mulai dari pekerja harian, karyawan kantoran, seniman, mahasiswa, hingga para blogger. Berbuat sekecil apapun demi keselamatan bersama, minimal untuk keluarga di rumah, sebuah langkah nyata. Mulai dari yang dianggap remeh seperti mengingatkan senantiasa memakai helm saat bersepeda motor, atau tidak melintas di trotoar jalan.
Ada yang bisa melihat, tapi tak mau bicara. Ada yang bisa bicara, tapi tak mau mendengar. Pilihan ada di tangan kita, untuk masuk kategori yang mana. (edo rusyanto)

About these ads
13 Komentar leave one →
  1. 26 Maret 2012 05:48

    nitip mas

    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/03/25/manusia-bukan-magnet-kesedihan/

    terima kasih

  2. 26 Maret 2012 06:37

    yup pemerintah pasti kesulitan kl mensosialisasikan sbuah program keselamatan tanpa didukung penuh oleh masyarakat.

  3. 26 Maret 2012 06:41

    saya sangat salut dengan anda mas edo, anda mendedikasikan diri untuk mempelopri safety riding dengan ikhlas juga secara isthiqomah,,, semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda..amien

    nitip lagi

    http://temonsoejadi.wordpress.com/2012/03/26/bukan-sopir-taxi-biasa/

    semoga bermanfaat..

    • 26 Maret 2012 07:33

      Aminnnn, makasih. Salam.

  4. 26 Maret 2012 08:19

    Setuju om.. Hari sabtu kemarin saya 3x kasi klakson panjang untuk rider alay penerobos lampu merah.. for their own good.. fiuuuuuh.. *lap jidat

    • 26 Maret 2012 08:28

      Smoga sikap arogan di jalan kian menghilang di jagat ini. Trims atensinya bro. Salam.

      • panasonic awards permalink
        26 Maret 2012 09:42

        kalo gak mau ngantri termasuk arogan gak mbah,,,lah orang pada ngantri ambil tiket parkir, ini maen trabas aja,,,untung gak ditabrak ama yg belakang….

        • 26 Maret 2012 10:54

          antre adalah budaya positif untuk ikut mengurangi potensi kecelakaan lalu lintas jalan. saya yakin itu. salam.

  5. 26 Maret 2012 08:21

    mulai dari diri sendiri…..tertib dan patuh peraturan lalu lintas……..

    http://beckhem.wordpress.com/2012/03/26/review-film-the-raid/
    http://beckhem.wordpress.com/2012/03/22/rating-rating-yang-perlu-anda-tahu-tentang-film-dan-game/

  6. 26 Maret 2012 10:47

    Memang sungguh miris melihat kecelakaan dan data yg ada, kecelakaan terjadi dan begitu banyak korban jiwa bahkan nilai nominalnya pun begitu besar. Mari kita ambil tanggung jawab pribadi, mulai menerapkan disiplin diri dlm berlalu lintas, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yg kecil dan mulai dari skrg…!!!

    • 26 Maret 2012 10:57

      mantabss mas bro, terus smangat untuk hidup lebih baik di esok hari. salam.

  7. 26 Maret 2012 11:34

    Astaghfirullah Aladzim, peluang untuk bisa selamat dan hidup ketika berada dijalan raya, sangat tipis sekali. semoga kejadian2 sperti gambar diatas dimasa yg akan frekuensinya bisa berkurang. amin.

    • 26 Maret 2012 11:47

      Kita berharap kian menciut korban kecelakaan di jalan bro.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.239 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: