Skip to content

Belajar dari Petani Duren

6 Januari 2012

BANYAK penikmat buah durian atau duren. Selain menikmati daging buahnya yang legit, rasa manis sibuah ‘buruk rupa’ bikin banyak orang ketagihan. Tapi, bagi mereka yang tak suka, aromanya yang menyengat saja sudah bikin pusing kepala. Saya termasuk yang suka.
Petani duren di Purworejo, Jawa Tengah termasuk yang berjasa memasok buah berbiji itu ke pasar. Saya baru ngeh saat menyaksikan program ‘Tumbuh Jelang Siang’ di siaran televisi swasta Trans, Kamis (5/1/2012) berkisar pukul 12.40-12.50 WIB.
“Saat musim panen, petani bisa memetik 50-200 buah per hari,” ujar Yessi Pasha, sang presenter.
Dalam tayangan itu disorot bentuk duren dan pohonnya yang rimbun. Buah duren bergelantungan di atas pohon.
Saat Yessi hendak melepas helm halfface berwarna merah, sontak sang bapak petani duren berseloroh. “Jangan dicopot, helm untuk antisipasi karena tidak bisa diduga kapan duren jatuh.”
Sang bapak bercerita, pernah ada petani yang meninggal akibat ketiban duren. Sang korban tidak memakai helm.
Entah karena bergidik atas cerita itu, atau tumbuh kesadaran, Yessi pun kembali memakai helm. Keren.
Bayangkan, untuk berada di tengah kebun duren saja, kesadaran sang bapak akan keselamatan demikian besarnya.

Saya menduga, saat bersepeda motor pun, sang bapak memakai helm sebagai perlindungan. Maklum, risiko di jalan raya bakal berkali lipat dibandingkan di dalam kebun. Ada ratusan, bahkan ribuan kendaraan yang wara-wiri. Ada beragam perilaku pengendara. Ada sejumlah pergerakan mendadak yang bisa muncul setiap saat. Ada kondisi infrastruktur jalan yang tak semuanya prima.

Helm sebagai perlindungan kepala saat kita berkendara. Sebuah ikhtiar agar tidak terlibat fatalitas buruk saat ketiban insiden kecelakaan di jalan. Masa gak belajar dari petani duren? (edo rusyanto)

About these ads
9 Komentar leave one →
  1. 6 Januari 2012 01:19

    wah..padahal, walaupun pake helm kayak gitu, kalo kejatuhan duren bener, belum tentu selamat lho..
    kecuali ya helmnya merk agv atau nolan.

    di kalimantan dan sulawesi, saya pernah dengar biar pake helm gitu ya jeder juga.

    (turut prihatin)

  2. 6 Januari 2012 07:35

    iya mbah,,,,penting

    http://pertamax7.wordpress.com/2012/01/06/honda-megapro-balik-knalpot-standar/

  3. 6 Januari 2012 08:23

    sepertinya si bapak petani benar2 belajar dari pengalaman sebelumnya..

  4. 6 Januari 2012 09:37

    ketiban duren…ngeriii……..

  5. uungferi permalink
    6 Januari 2012 10:27

    ketiban duren sama saja ketiban rejeki katanya mbah,…

    http://blogbikers.wordpress.com/2012/01/05/akhirnya-yamaha-fino-bakal-mbrojol-bulan-februari-2012/

    • 6 Januari 2012 10:44

      Kalau secara harfiah, apes juga yah? Durinya itu loh.

  6. 6 Januari 2012 10:40

    Kalau menurut ane yg terpenting adalah timbulnya kesadaran diri dari pribadi masing-masing akan pentingnya keamanan & keselamatan baik itu berkenaan dgn helm atau apapun. Krn kalau semua didasari adanya kesadaran dari dlm diri niscaya semuanya akan berjalan dgn baik. betul tidak…???

    • 6 Januari 2012 10:45

      Betul banget. Makasih dah berbagi disini. Salam.

  7. 6 Januari 2012 12:59

    BULAN DESEMBER 2011 Market Share Honda yang mencapai 61.1% sedangkan Yamaha tinggal 28.9%….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.371 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: