Skip to content

ATPM Bikin Bus Dong

9 Januari 2011

Salah satu bus yang beroperasi di Jakarta. (foto:edo)

Pagi baru merangkak. Suasana di kawasan segitiga emas Jakarta sudah berdenyut. Lalu lalang kendaraan sudah ramai. Salah satunya iring-iringan dua kendaraan berpelat corps diplomatic. Bahkan, para aparat berseragam biru putih lengkap dengan helm dan rompi anti peluru, sempat menutup jalan. Saya menanti hingga dua kendaraan itu, masuk ke kompleks Kedubes Australia.
Kamis (6/1/2010) pagi itu, saya janjian ketemu salah seorang teman di kawasan Rasuna Epicentrum.
Ruang asri berarsitektur modern minimalis menjadi tempat kami berbincang. Segelas teh hangat dan beberapa kudapan menemani kami mengobrol.
Perbincangan mengalir. Tiba-tiba memasuki topik yang bagi saya lumayan mengagetkan. “Kalau ATPM otomotif mau peduli membangun transportasi kota, kenapa tidak patungan membuat satu atau dua bus tiap tahun, lumayan membantu kan,” sergah teman saya.
Ide nyleneh. Tapi bisa masuk akal. Anggap saja sebagai corporate social responsibility (CSR). Tokh para agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor dan mobil sudah cukup banyak mengenyam keutungan dari pasar Indonesia. Tahun 2010 saja, tak kurang dari 763 ribu mobil yang diserap konsumen dan sekitar 7,3 juta unit sepeda motor yang terjual.
Kebutuhan bus sebagai alat transportasi massal umum bakal terus membesar pada masa-masa mendatang, terlebih di Jakarta. Ya. Kemacetan lalu lintas (lalin) jalan di Jakarta sudah demikian parah. Bahkan, pemerintah pusat harus membuat 17 jurus mengatasi kemacetan yang dipimpin langsung Wakil Presiden Budiyono.

foto:edo

Salah satu andalan Pemprov DKI Jakarta dalam mengatasi kemacetan adalah mewujudkan sistem transportasi umum massal berbasis bus yakni Trans Jakarta. Sejak dioperasikan tahun 2004, moda transportasi tersebut baru memiliki tak lebih dari 524 bus yang melayani 10 koridor. Tentu saja daya angkut bus tersebut belum memadai untuk melayani 20 juta perjalanan tiap hari yang ada di Jakarta.

Menurut rekan saya itu, jika bus kian banyak, praktis keinginan masyarakat menggunakan angkutan umum juga menjadi lebih besar. Tentu saja dengan layanan yang aman, nyaman, selamat, dan terjangkau secara akses dan finansial.

Ide agar para ATPM dituntut menyumbang satu atau dua bus per tahun, rasanya tak tertutup kemungkinan diwujudkan. Jika dibarengi dengan pemberian insentif bagi industri otomotif, rasanya masuk akal. Berapa sih anggaran untuk satu bus? Kita tengok saja data yang pernah dilontarkan Dinas Perhubungan DKI Jakarta beberapa waktu lalu bahwa anggaran untuk 44 unit bus gandeng dibutuhkan Rp 180 miliar. Artinya, harga per unit sekitar Rp 4 miliar. Pasti Anda punya pendapat lain? (edo rusyanto)

About these ads
12 Komentar leave one →
  1. 9 Januari 2011 07:23

    Pertamax

  2. 9 Januari 2011 07:48

    Setuju Mbah

  3. 9 Januari 2011 08:23

    keenakan pemerintah ntar,pajak dari transportasi yg harusx mereka gunakan buat transportasi malah bisa disalahgunakan karena ada CSR dari pabrikan jika itu demikian. Tau sendirikan bagaimana xxxxxx kita disini
    nitip http://az147r.wordpress.com/2011/01/09/oli-bekas-setelahnya-kemana/

  4. 9 Januari 2011 10:03

    nambah tips sukses http://triyantobanyumasan.wordpress.com/2011/01/09/kesuksesan-dari-kemauan-diri-sendiri/

  5. 9 Januari 2011 11:01

    satu bus 4 milyar ? mark-up itu …

    • 9 Januari 2011 11:09

      smoga tidak ada lagi praktik seperti itu ya bro. hidup indonesia!

  6. 9 Januari 2011 13:33

    Setuju…..

  7. 9 Januari 2011 15:01

    ehm http://triyantobanyumasan.wordpress.com/2011/01/09/perang-motor-sport-di-2011/

  8. 9 Januari 2011 15:47

    ngikut aja jarang ke jakarta jd gak ikutan macett…

  9. 9 Januari 2011 15:51

    setuju mbah …….
    ngomong2 kalau lihat jakarta yg penuh sesak seperti itu seakan2 indonesia itu sempit ya….seperti tak ada tempat yg kosong lagi….

  10. harry32 permalink
    10 Januari 2011 10:46

    Maaf Mas, saya ndak sepakat dengan ide ini. Pertama akan membuat pemerintah jadi enak, gak peras keringat. Kedua, ujung-ujungnya biaya perawatan nanti akan dikemplang ke ATPM yang nyumbang. Ketiga, bisa jadi mainan alias kolusi dari siapa saja. Biarkan saja pemerintah menyediakan sarana transportasi karena itu tanggung jawab mereka. Tks.

  11. Zen1th permalink
    10 Januari 2011 11:01

    IMHO , saya tidak setuju sama seperti diatas , klo swasta mau bikin bus mungkin bus khusus untuk karyawan atau keluarga karyawan…Klo bus juga minta sumbangan perusahaan swasta malah bikin manja pemerintah.Pemerintah klo menurut saya kebanyakan korupsinya makanya seolah olah nda ada dana buat bikin bus..
    Saya malah setujunya klo busnya dibranding produk swasta itu nda papa yang penting aliran dananya jelas .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.297 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: