Skip to content

Lagi, Sepeda Motor Dominasi Kecelakaan di Jakarta

16 Juli 2010

foto: istimewa

SEPANJANG Januari-Juni 2010, sepeda motor yang terlibat kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta mencapai 3.995 unit setara dengan 59,52% dari total kendaraan yang terlibat kecelakaan sebanyak 6.712 kendaraan.

Tingginya keterlibatan sepeda motor dalam kecelakaan tidak terlepas dari meruyaknya populasi sepeda motor di Jakarta yang hingga kini mencapai sekitar 6,7 juta unit. Jauh lebih besar dibandingkan populasi mobil yang ditaksir sekitar dua jutaan unit. Namun, penyebab kecelakaan terbesar sepanjang enam bulan pertama 2010 ternyata akibat perilaku para pengendara. Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, sebesar 90,65% kecelakaan karena faktor manusia. Selebihnya, faktor kendaraan (8,23%) dan jalan (1,11%).

”Kecelakaan selalu diawali dengan pelanggaran peraturan lalu lintas,” ujar Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Kartono W, kasubdit Dikmas Mabes Polri, dalam workshop Pekan Aman di Jalan, yang digelar Kementerian Kesehatan (Kemenkes), di Cipayung, Bogor, Rabu (14/7/2010).

Menurut dia, faktor manusia tidak terlepas dari perilaku yang tidak taat peraturan. ”Yang harus dibangun adalah manusia yang taat hukum, bukan taat polisi,” tukasnya. (lihat tabel penyebab)

Dia mengakui, pekerjaan terberat adalah meningkatkan kesadaran para pengendara agar berperilaku aman dalam berlalu lintas. ”Selama tidak ada political will, jumlah kecelakaan tidak akan turun,” tegas Kartono.

Di mata Yuhendri, guru SMA 32 Jakarta, perilaku yang berpotensi memicu kecelakaan adalah karena enggan sabar. ”Pingginya buru-buru, jadi deh saling serobot,” tutur dia.

Selain perilaku ugal-ugalan, faktor manusia yang lain tentu saja terkait dengan keterampilan berkendara.

Terkait political will, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Yusharmen, menilai, butuh sinergi yang bagus antara pemerintah, LSM, dan masyarakat untuk menekan angka kecelakaan. ”Selain itu, harus terintegrasi. Saling melengkapi dan jangan tumpang tindih,” papar dia.

Sedangkan mengenai penegakkan hukum di jalan, menurut AKBP Johanson R Simamora, kasubdit Penegakan Hukum Polda Metro Jaya, di lapangan kerap kali terjadi ’intervensi’ ketika hendak diterapkan hukum secara benar. Ia mencontohkan, ada seseorang yang kedapatan melanggar lalu lintas dan hendak ditilang, tiba-tiba menelepon pejabat anu atau pejabat itu. Ujungnya, minta koordinasi agar ditoleransi. ”Seakan tidak ada pembelajaran hukum,” tegasnya.

Namun, sebenarnya ’intervensi’ itu bisa saja berupa akal-akalan. Seorang PNS mengaku menyimpan kartu nama seorang perwira polisi di dompetnya, agar ketika ditilang bisa ditoleransi. ”Bilang aja, ini kartu nama kakak saya,” kilah PNS tersebut.

Kenapa masyarakat kita seperti itu?

Korbannya Bikers

Jumlah pengendara sepeda motor yang tewas sepanjang Januari-Juni 2010 sebanyak 301 orang atau sekitar 60,07% dari total yang meninggal sepanjang periode tersebut sebanyak 501 jiwa. (lihat tabel kendaraan)

Sementara itu, bikers yang luka berat mencapai 1.273 orang atau 40,25% dari total korban luka berat 3.162 orang, sedangkan korban luka ringan bikers sebanyak 1.955 orang (61,82%).

Sepeda motor kian berpotensi memicu kecelakaan ketika sang pengendaranya tidak mematuhi aturan lalu lintas jalan dan enggan berbagi ruas jalan dengan sesama pemakai jalan.

Dari sisi profesi korban kecelakaan, sebanyak 4.267 orang atau sebanyak 80,13% adalah karyawan swasta, lalu pelajar/mahasiswa 748 orang (14,04%), pengemudi 124 (2,32%), PNS 106 orang (1,99%), dan TNI/Polri 80 orang (1,5%).

Bagi Suharto, seorang PNS Kemenkes, sosialisasi masalah keselamatan jala harus terus digencarkan. ”Yang terbaik dilakukan sejak usia dini,” tegasnya.

Dia berharap, seluruh elemen masyarakat yang memahami tentang keselamatan jalan, terus menyebarluaskan kepada sesama masyarakat. Menurut Anda? (edo rusyanto)

About these ads
12 Komentar leave one →
  1. niko permalink
    16 Juli 2010 10:51

    sebenernya cuman 1 inti permasalahan dari semua ini, disiplin!. andai semua pengguna jalan (biker), aparat (yang mengeluarkan SIM), aparat (penindak hukum) tegas, insya 4JJ1 ga akan ada lagi masalah seperti ini.

    bikin SIM harus bener2 selektif, mungkin bisa juga pakai psychotest untuk tahu seperti apa tingkat emosional dan karakter si “calon” pengemudi, supaya ga gampang terpengaruh/terprovokasi di jalanan. —> tugas aparat pembuat SIM.

    penindakan hukum yang tegas dengan ngasih contoh yang baik dimulai dari diri sendiri (si aparat), bisa diterapin di jalanan. jangan dikit2 “damai”.. lah kalo gitu, sampe lebaran kuda juga jalanan tetep jadi “momok” menakutkan buat pengendara motor lain yang masih “waras”. bukan takut melanggar lalu lintas yang bisa menyebabkan kerugian buat pengguna jalan lain, tapi takut kena tilang.

  2. zaqlutv permalink
    16 Juli 2010 11:00

    psychotest seperti pembuatan sim B1 dan B2 yach?

  3. KillBill1 permalink
    16 Juli 2010 12:17

    Gambaran umum pelaku kendaraan bermotor bisa dilihat dari angka korban kecelakaan lalulintas. Wajar saja rider banyak yang mati konyol karena kelakuannnya,yang kasian adalah pengendara motor lain yang juga ikut korban karena perbuatan salah orang lain.

  4. 16 Juli 2010 12:30

    Kelihatannya harus baca ini dulu dehhh…om :-)

    http://dwinugros.wordpress.com/2010/07/15/menyikapi-efek-negetatif-pertumbuhan-sepeda-motor-di-sekitar-kita/

  5. jaos permalink
    16 Juli 2010 13:27

    jadi mana yg duluan diperlukan tegaknya hukum di jalan atau iklan “safety” tapi berbau dagang yg gak habis juntrungannya itu?

  6. fr1tz permalink
    17 Juli 2010 10:12

    Memang pengendara sepeda motor rada ngawur (ga semua juga sih)

    http://andredream.wordpress.com/2010/07/17/gak-ngerti-bahasa-prokem-dan-jargon-singkatandi-facebook-seperti-“lol”-gak-usah-bengong-pake-aplikasi-chat-slang-dijamin-kamu-lebih-gaul-dari-teman2mu/

  7. meet_hana permalink
    19 Juli 2010 11:13

    wah berarti peran ATPM dalam hal kampanye safety riding mesti lebih strategis lagi nih. Harus melakukan kegiatan-kegiatan yang out of the box selain hanya mengajarkan berkendara yang benar. harus ada strategi-strategi unik, agar konsumennya merasa terpacu dan perlu untuk berkendara yang aman.

  8. 19 Juli 2010 15:25

    Saling disiplin mematuhi lalulintas kunci keselamatan dalam berkendaraan

  9. 19 Juli 2010 16:24

    tanpa kedisiplinan, mustahil ketertiban di jalan raya bisa terwujud. persoalannya, bgm meningkatkan kedisiplinan di dalam diri para pengguna jalan? saya termasuk yg percaya bahwa kedisiplinan harus lahir dari dalam diri para pengguna jalan. ketegasan dan konsistensi petugas keamanan adalah faktor penunjang. karena itu, tak ada salahnya mulai hari ini kita disiplin di jalan demi keselamatan bersama. amiennn

  10. 18 Desember 2010 00:20

    gan ane bagi gambar nya ya ,biar bantu angka kecelakaaan menjadi turun ^^

  11. 27 Maret 2012 17:37

    Wah,lainkali aku harus menngunakan helm!

Trackbacks

  1. Tweets that mention Lagi, Sepeda Motor Dominasi Kecelakaan di Jakarta « Edo Rusyanto's Traffic -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.365 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: