Skip to content

Sawarna, Pesona Sang Perawan

14 Maret 2010

foto:istimewa

“Teruslah bersyukur mengagumi ciptaan-Nya.”

KALIMAT singkat namun penuh makna itu tertera dalam layanan pesan singkat (SMS) dari seorang sahabat saya, di penghujung pekan. Salah satu makna di balik kalimat itu seakan mengingatkan kita, para manusia, tak pernah ada yang bisa menciptakan keindahan yang lebih indah dibandingkan Sang Maha Pencipta.

Siapa yang bisa menandingi keindahan Bunaken? Siapa yang bisa menandingi pantai Senggigi, Lombok? Atau bisa menandingi eksotisnya Danau Kelimutu? Hmmm…

Decak kagum atas keindahan yang disodori sepanjang Cisolok (Jawa Barat) hingga Sawarna (Banten), tak henti-hentinya terlontar dari kami. Jalan yang berkelok, kadang menurun dan menanjak tajam, lalu di sisi jalan terhampar lautan luas dengan gemericik ombak, kadang diselingi hijaunya kebun teh, hutan karet, atau hamparan sawah dengan udara yang segar. Subhanallah.

Puncak  dari segala keindahan tersaji ketika kaki menjejak bibir pantai Ciantir, Sarwana. Pantai eksotis nan perawan dengan birunya air laut dan ombak yang bisa dipakai untuk ber-surfing ria. Belum terjamah roda industri pariwisata dan serbuan ribuan wisatawan dalam sepekan. Tak berjauhan dari Ciantir, terdapat Tanjung Layar yakni pantai dengan dua buah karang besar berbentuk layar.

“Luar biasa indah. Mantab,” sergah Tata, pria lajang ahli teknologi informasi, di Sawarna, Sabtu (13/3/2010).

Pesona Sawarna

Sawarna. Mayoritas orang masih awam soal nama itu. Termasuk saya. Kecuali satu bulan belakangan ini. Maklum, kami mengagendakan Sawarna sebagai salah satu tujuan bersepeda motor alias touring dari Jakarta.

Jarak tempuh ke kota kecil di sudut perbatasan Jawa Barat-Banten itu, hampir sekitar 210 kilometer (km) dari Jakarta dengan menempuh rute melalui Bogor, lalu Cibadak dan Pelabuhan Ratu.

Rute lain yang bisa ditempuh adalah Jakarta – Tomang – Serang – Pandegelang – Malingping – Bayah – Sawarna, yang ini berjarak tempuh sekitar 260 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam.

Sawarna, merupakan salah satu desa kecamatan Bayah. Di Bayah, wisatawan bisa memilih fasilitas hotel untuk menginap. Namun, untuk di Sawarna, nuansanya berbeda. Bagi wisatawan yang bermalam bakal dilayani oleh empat penginapan, di antaranya Losmen Chlara, Widi, dan Batara.  Soal biaya sewanya juga relatif terjangkau, misal, di Saung Chlara, tiap kepala dipungut Rp 80 ribu untuk penginapan plus 3 kali makan. Untuk tempat menginapnya tinggal pilih, mau di losmen atau di saung. Bedanya, yang pertama berbentuk rumah permanen biasa, sedangkan yang kedua, berupa rumah panggung dengan dinding anyaman bambu dan lantai kayu. Jarak pantai dari saung relatif lebih dekat, sekitar 200 meter. Uniknya, untuk menjangkau saung, kita harus melintasi jembatan gantung yang di bawahnya mengalir sungai menuju muara di pantai Sawarna. Di sungai itu juga kerap dipakai bermandi oleh bocah setempat.

“Saya baru setahun terakhir membuat usaha saung ini,” papar ibu Nenda, yang sudah 10 tahun menetap di desa tersebut, saat ditemui di Sawarna, Sabtu (13/3/2010).

Buat yang doyan masuk gua, di kawasan ini juga tersedia obyek wisata tersebut. Bisa berpetualang ke dalam gua, menyaksikan kekuasaan Ilahi di dalam perut bumi.

Asyiknya Touring

Rombongan kami yang meluncur jelang Sabtu (13/3/2010) dinihari dari Jl Sudirman, Jakarta Pusat, praktis berjalan mulus hingga memasuki perhentian pertama di stasiun pompa bensiun umum (SPBU) Warung Jambu, Bogor. Waktu tempuh sekitar 57 menit, tentu saja dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer per jam (kpj). Maklum, malam itu, rombongan Independent Bikers Club (IBC) hanya 11 motor, tanpa membawa pembonceng alias no boncenger. Cuaca cerah mendukung perjalanan. Termasuk ketika memasuki etapi kedua  guna menuju tempat perhentian selanjutnya, yakni SPBU Cikembang, Sukabumi.

Foto-foto dulu akh (foto:edo)

Meski berpapasan anek kendaraan berat seperti kontainer, truk, dan bus-bus besar, rombongan IBC melenggang nyaris tanpa halangan. Sempat terusik oleh kehadiran kabut pekat ketika memasuki persimpangan Parakan Salak hingga Cikembang. “Kacamata sampai saya turunkan karena kabutnya pekat,” papar Irfan, yang sehari-hari korektor bahasa.

Ya. Saya termasuk yang harus membuka kaca helm dan menurunkan kacamata karena embun menjelma menjadi titik air di permukaan kacamata. Hal itu amat mengganggu. Terlebih, sepanjang Jl Raya Sukabumi dari arah Ciawi, Bogor, menjelang pukul 02.30 WIB kian ramai dilintasi kendaraan berat. Memasuki kawasan Cikembang, selain pekatnya kabut, juga dilengkapi dengan jalan yang berkelok, licin, dan hanya mampu menampung dua jenis minibus ketika berpapasan, alias lebih kecil dibandingkan Jl Raya Sukabumi.

Selaku sweeper, saya buncit memasuki perhentian kedua. Beruntung ketemu Ari dan Ade Jun yang sedang kebingungan soal arah jalan. ”Saya mau menelepon teman-teman di depan, benar gak jalur ini,” papar Ari, ahli data statistik. Sontak, saya pandu mereka. “Ini jalur benar kok,” sergah saya. Maklum, keduanya belum pernah menempuh jalur tersebut.

Di perhentian kedua, delapan Tim IBC sudah lebih dulu beristirahat sambil mengisi bensin. “Bagaimana dengan Sontry dan Sindhu,” tanya Coy Snx, anggota IBC yang juga seorang jurnalis.

Sontry dan Sindhu adalah Tim IBC yang menyusul dari arah Ciputat, Tangerang. Hingga di perhentian kedua, mereka belum bisa mengejar rombongan utama. Menjelang pukul 03.19 WIB, perut yang mulai menagih minta diisi memaksa kami singgah ke warung kecil di pinggir jalan di kawasan Cikembang arah ke Pelabuhan Ratu.

Mie kemasan rebus pun jadi santapan utama ditambah gorengan dan segelas teh atau kopi hangat. Sekitar 46 menit beristirahat, tim touring IBC meluncur menuju Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Saya instruksikan agar masuk ke kota itu jelang subuh agar masih sempat ibadah subuh.

Saung Chlara, Sawarna (foto:edo)

Mesjid Jami Al Qudsiyyah masih ramai oleh jamaah ketika kami tiba. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 05.15 WIB. Sebagian anggota rombongan sholat subuh, sebagian beristirahat, sambil menikmati sebatang rokok dan menenggak air putih. Langit mulai terang, maklum jarum jam menunjukkan 05.45 WIB ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Cisolok-Cilograng dan berhenti di Sawarna. “Si ibu pemilik villa sudah telepon, dia tanya sudah sampai mana karena dia mau menyiapkan sarapan pagi,” tutur Ari. Kami sengaja memesan penginapan via telepon sebelum berangkat dari Jakarta.

Para nelayan sudah memulai aktifitas, sedangkan anak sekolah terlihat berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor. Pagi sudah merekah ketika kami menapaki jalur Pelabuhan Ratu hingga Sawarna yang lumayan menantang. Terlebih antara Cilograng-Sawarna. Ratusan kelokan ke kanan dan ke kiri. Tanjakan terjal dan sesekali jalan berlubang. Untung saja tergantikan oleh keindahan luar biasa di kanan kiri jalan. Hijaunya pegunungan, birunya lautan, dan segarnya hawa pegunungan.

Kami memakai formasi satu, kadang formasi dua. Maklum, jalan yang dilintasi lebih kecil dibandingkan Jl Raya Sukabumi. Insiden kecil sempat terjadi. “Kondisi sepeda motornya masih kurang menyatu dengan saya, apalagi mata mulai mengantuk,” papar Coy Snx, yang terpaksa membiarkan sepeda motornya mencium semak-semak karena lepas konsentrasi. Saat itu, kata dia, laju sepeda motor Ninja 150 R sekitar 80 kpj. Ketika menemui tikungan tajam, kesulitan membelok, terpaksa sebisa mungkin mengerem dan akhirnya seperti di atas tadi. Ia ditolong oleh warga sekitar yang kebetulan melintas hendak berkebun.

Saya sempat menemui Coy, dalam kondisi sudah ditolong warga dan sudah ada Tata dan Ade Jun. Tim yang lain sudah meluncur. Namun, sempat menunggu kami berempat.

Waktu sudah memasuki pukul 08.50 WIB ketika bu Nenda menyapa kami. Sang empunya losmen pun sudah menyiapkan sarapan pagi berupa nasi goreng dengan telur ayam goreng serta kerupuk dan sambal. Tak pelak, ludes disantap rombongan yang memang selain mengantuk, sudah terserang rasa lapar.

Usai sarapan, sebagian dari kami memilih memejamkan mata sebelum pindah ke Saung Chlara, tempat bermalam kami. Sebagian lagi memilih menuju saung lebih dulu, sekaligus mengintip pantai.

Rasa letih sedikit sirna ketika terbangun di Sabtu siang sekitar pukul 14.20 WIB. Pilihan yang logis, isi perut dulu sebelum menuju pantai dan menyimpang barang-barang di saung. Tak sabar meluncur ke pantai Sawarna. Usai menyimpan barang seluruh tim pun meluncur. Tak terkecuali.

Jembatan gantung Sawarna (foto:edo)

Oopppsss….ada yang kelupaan. Untuk menuju saung, kami harus melintas jembatan gantung. Nah, karena tidak biasa, saat kami melintas dengan sepeda motor, menjadi tontonan warga sekitar. Bahkan, ada yang bertepuk tangan riuh. Mungkin, kami dianggap lucu karena berwajah pucat dan berjalan bak keong. Maklum, ngeri juga melihat sungai besar yang melintas di bawah jembatan. Terlebih, jembatan itu tidak memiliki pengaman yang cukup di kanan kirinya. Praktis, jika tergelincir risiko masuk ke sungai ternganga lebar. Siapa yang mau?

Pantai. Seakan tak pernah habis untuk dinikmati. Sawarna memiliki pantai yang cantik. Bahkan dijuluki sebagai surga yang tersembunyi. Tak banyak yang tahu ada pantai eksotis di kawasan itu. Mungkin lima, sepuluh, atau duapuluh tahun lagi baru akan sehingar bingar pantai di Bali. Hemmm…

Sayangnya, udara di langit diselubungi awan tebal. Sebagian tim IBC yang asyik mandi di pantai berombak besar itu, atau sebagian yang asyik memotret keindahan alam atau memotret diri sendiri, harus segera bergegas. Hujan pun turun.

Kami menghabiskan malam dengan mengevaluasi perjalanan dan menentukan rute pulang, sedikit menyinggung soal organisasi, selebihnya asyik dengan permainan kartu gaple. He he he….

Sawarna di pagi hari usai diguyur hujan ternyata lebih eksotis. Tanahnya yang berpasir terasa lembab. Usai berkemas, kami menyantap sarapan pagi ala bu Nenda. ”Masakannya enak bu,” tutur Ade Jun, yang sehari-hari jurnalis pasar modal.

Rehat di pinggir pantai (foto:ari)

Tak ada yang menyangkal. Faktanya, nasi uduk ludes. Kami sempat memberi kenang-kenangan cd lagu Jhon Legend untuk bu Nenda, sebelum pamitan menuju Jakarta. Tak lupa berdoa bersama dan sedikit toast ala IBC, rombongan pun melenggang.

Kami mencoba jalur baru. Sekitar 12 km menuju Cilograng. Rutenya cukup ekstrim. Tanjakan dengan kemiringan sekitar 40 derajat. Walau beraspal mulus, kecuali sekitar  km jelang Cilograng, para bikers mesti ekstra waspada, maklum di kanan kiri tersedia jurang gratis. Vixy merah yang saya tumpangi terpaksa lebih banyak memakai gigi dua dan tiga untuk melahap tanjakan terjal tersebut.

Praktis perjalanan pulang berlangsung dengan mulus. Sempat berhenti di SPBU Pelabuhan Ratu sebelum terus melalui jalur Pelabuhan Ratu-Cikidang. Aspla jalur Cikidang sedikit lebih buruk dibandingkan arah ke Sawarna. Mungkin karena jalur itu ramai dilintasi kendaraan yang hendak berwisata. Tikungan tajam dan indahnya pegunungan teh dan kebun sawit cukup menghibur rombongan IBC.

Situasi agar berbeda ditemui ketika memasuki kawasan Jl Raya Sukabumi. Selain agak macet di kawasan Cicurug dan perempatan Ciawi hingga ke Tajur, cuaca juga tak sesegar di pegunungan. Kami memilih beristirahat di Pondok Ikan Bakar Pajajaran di kawasan Baranang Siang, Bogor. Menunya cukup menggoda, ada makaroni, sop buntut, dan fuyunghai. Tentu saja aneka ikan bakar.

Sambil santap siang karena sudah menunjukkan pukul 11.45 WIB, kami memutuskan untuk saling berpisah di kota Hujan itu. Sebagian ke arah Jakarta, Depok, dan Parung. Saya termasuk yang ke arah Jakarta. Pulang ke rumah. Badan terasa ingin dipijat dan mandi air hangat. Jarum jam pukul 14.00 WIB, ketika kaki menjejak di rumah. Hmmm…hanya 5 jam, Sawarna-Jakarta. Beda satu jam dibandingkan saat pergi. (edo rusyanto)

About these ads
26 Komentar leave one →
  1. tomi permalink
    14 Maret 2010 20:39

    kang edo detected :D
    ko ga ajak2 anak MIG si :(
    padahal anak2 lagi laper touring heheh

    • 14 Maret 2010 20:49

      he he he…aku memang gak undang klub lain bro, kebetulan acara internal. nanti kita setting deh, touring gabungan. ke lampung yuk?

      • 15 Maret 2010 16:59

        kpn ke lampung om????
        mdh2an sy bisa ikut d brg tmn2 yg laen……
        soal’y ada tmn yg rmh’y di sana jd bisa base d’sana……

  2. 14 Maret 2010 21:11

    2 minggu lalu aku ke bayah.. tapi nggak ke suwarna.. belokannya yang mana yah oom? pelabuhan ratu terus bayah.. terus kemana?

  3. 14 Maret 2010 21:23

    mantab…
    lam kenal bro…

  4. dee-j permalink
    14 Maret 2010 21:30

    mantabs om…
    jadi pingin nyoba nich…
    btw ke lampung…?? kapan om…??
    boleh ikut ga…???

  5. Stevan permalink
    14 Maret 2010 21:54

    Hihi,, kebagian podium juga :D

  6. 15 Maret 2010 08:09

    @pride; sekitar 20 km sblm bayah, ada gerbang wana wisata belok kiri, atau belok kiri di pangkalan ojek skitar 12 km sebelum gerbang. rutenya lebih dahsyat, tanjakan turunan dgn kelokan tajam. silakan dicoba bro…

    @dee-j; insyaallah agustus 2010, silakan aja bro…

    @oktav; salam kenal juga bro.

  7. 15 Maret 2010 16:33

    Selamat ya om.. dah ke sawarnya jg… Kl diterusin hingga binuangen… pemandangan kanan kiri jg nga kalah indah lho om… :)

    btw, berarti sdh “jembatan bedebah certified” ya om edo? xixixixi…

  8. 15 Maret 2010 16:57

    wah itu emang tempat gokil….
    saya sudah pernah kesana…..
    malah tinggal numpang sama penduduk sekitar jd it’s free…….

    ada yg masuk goa tempat’ya ada di seberang pantai sawarna cuma berjarak 10ometer yg bagian terpisah dari pantai…..
    di situ cara masuknya ketika sedang surut lalu keluar saat pasang……
    indah nian pokok’y…….

    perjalanan enakan lewat sukabumi lalu sebelum pelabuhan ratu belok kiri lewat cikidang itu memper cepat jarak 80km…..
    tapi jalannya gokil……
    naek turun pegunungan dengan ketinggian 60derajat malah bisa lebih smape motor saya nahan gigi 1……
    parah abis….
    itu jalanan melebihi nama’y puncak bogor….

    pokoknya yg belom pernah ke sawarna jgn lupa harus mampir…..

    salam bikers

  9. muray permalink
    15 Maret 2010 17:08

    yups… bayah, sawarna, goa saketeng, tapak kabayan…, hingga tebing sawarna… adalah alam yg teramat indah di banten.
    pertama kali kujejakkan kaki ksana ( 1995, saat ku sma ), blm banyak orang yg tau akan alam ini. msh teramat jarang kendaraan meluncur ksana, yg ada hanyalah jeep + motor bertapak rantai.
    fuuiiihh… indah sekali alamnya…
    kini alam itu semakin tersohor… akankah kan tetap terjaga kelestariannya 15 tahun yg akan datang… seperti halnya kukenal alam itu 15 tahun lalu.
    ingin rasanya kujejakkan roda2 ini ksana…
    hanya waktu yg akan menjawabnya.
    semoga bayah khan tetap indah… dan mempesona…

  10. muray permalink
    15 Maret 2010 17:12

    kang edo… tuh foto pantainya diambil di turunan yg menuju ke sawarna yaa… turunan sebelum jembatan ?

  11. Luke permalink
    15 Maret 2010 17:19

    wah keren banget tuh pak Edo, mantab pak..!!
    next touring MRC kesana neh…

  12. 15 Maret 2010 21:00

    subhanallah … cuma bisa diam :)

  13. ade permalink
    18 Maret 2010 10:23

    mantab om, ane juga pernah ikut touring ke pantai sawarna.
    sepanjang perjalanan hanya satu yang bikin deg-degan, ya waktu nyebrang jembatan gantungnya :D

  14. dhanes permalink
    22 Maret 2010 18:07

    Om Edo,
    Mo ikutan lagi jadi RC KHCC ke sawarna?
    Mantabs nih tempat… emang pantai selatan sangat eksotik. Ini gak kalah indah sama Ujung Genteng. Top markotop.

  15. Kliwon BlackVixi permalink
    24 Maret 2010 16:25

    mantabs banget bro edo, pingin rasanya ajak Chemonk Motor Community (Chemony) perumahan VNI 5 Cibubur kesana…
    sebab kemarin gak sempat gabung YVC jakarta kesana..
    apalagi jembatannya…pasti seru deh ya, dgn rumah saung….
    tapi team chemony butuh guide buat kesana nih om…

    salam
    Soul Of Brotherhood
    Kliwon

  16. miss iyha permalink
    29 Maret 2010 13:13

    bro… keren bgt informasinya,, boleh minta info untuk villanya ga?? bisa dikirim ke email aku.. bukan depan rencana touring kesana, thx yah brader…

    iyha

  17. Efven Reborn permalink
    7 April 2010 00:07

    Mantap nih…om edo…kapan2 ajak saya ya…
    Weleh, weleh…

  18. darussalam permalink
    19 April 2010 13:26

    keren um……. :)

  19. dayu permalink
    23 April 2010 12:39

    jangan kapok…ya..maen kesawarna….

  20. asral permalink
    17 Oktober 2010 17:05

    ….mang cuwcok…!!!bagi pria sejati.tuh..nyang hoby…Nye… touring…ya….soalnye ane udeh rasain…..tanjakan ame jembatan gantung Nye …….mantap coww….pokeke “ajib….dech…

  21. 7 Mei 2011 07:40

    hallo salam kenal aq mila,aq dr sawarna seru juga ya baca coment2nya kpn ni ke sawarna lg?aq mau nawarin penginapan di sawarna yg fasilitasnya lengkap lho ada tv,ac, closet duduk,tempat parkirnya luas jg dekat jalan raya dan 100 m dr pantai,dan yang pastinya murah !!utk lebih lengkapnya hub mila di no 081911920777-081646992036.tq

  22. lomri permalink
    7 Januari 2012 02:33

    maaf pa boleh nnya di sini ada sewa villanya gg trus klo ada harga,a brapa informasinya di tunggu

    makasih

  23. Notes From The Toilet Paper permalink
    7 Februari 2012 15:32

    Waahhh>>>seru2 om..baru ada plan mau kesana nih….

Trackbacks

  1. Tweets that mention Sawarna, Pesona Sang Perawan « Edo Rusyanto's Traffic -- Topsy.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.564 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: