Skip to content

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian kedua):

26 Januari 2009

UDARA dingin yang menyelusup ke dalam jaket mengiringi perjalanan Cibogo-Cianjur-Rajamandala-Cipatat-Padalarang. Apalagi, Sabtu (24/1), dinihari itu situasi lalu lintas (lalin) amat sepi. Jalanan lancar sehingga sepeda motor bisa dipacu dalam kecepatan 80-90 kilometer per jam (kpj). Ada beberapa ruas yang kerusakannya agak menganggu yakni ruas setelah Gunung Mas, Puncak. Sekitar 500 meter memasuki kawasan kebun teh tersebut, ada bagian jalan yg berlubang. Ironisnya cukup lebar dan posisinya di tikungan. Hal itu mengagetkan bikers. Saat itu posisi saya sedang beriringan dengan bikers lain yang jumlahnya sekitar 20-an motor. Untung keseimbangan para bikers cukup baik shingga kecelakaan dapat dihindari. Kondisi jalan yang rusak di jalur Puncak juga ditemui di dekat restoran Rindu Alam. Hanya saja lebih kecil dibandingkan di bawah.
Hawa dingin pegunungan menelusuk di sela jaket dan menerpa lebih deras di bagian kaki. Sementara itu, rintik-rintik embun dari kabut menerpa kaca helm. Untung saja kabut tidak berbuah gerimis sehingga motor bisa dipacu stabil 80-90/kpj.
Ruas jalan Puncak Pass-Cipanas-Cianjur cukup mulus, sesekali ada jalan yang bergelombang, namun relatif mudah dilewati berbeda dengan gelombang di Tajur, Bogor.
Selepas kota Cianjur menuju Padalarang, perjalanan juga cukup lancar. Sisi kanan dan kiri banyak pesawahan, namun karena hari masih gelap, pemandangan indah itu tidak dapat dinikmati. Jarum jam menunjukkan pukul 05.02 WIB.
Perjalanan dari Cianjur hingga jembatan Rajamandala, dulunya jalan tol, cukup mulus dan memanjang lurus. Motor bisa dipacu 80-90 kpj. Jembatan yang berada di perbatasan Cianjur dan Kabupaten Bandung itu dibangun awal 1980-an. Pada zaman penjajahan Belanda, warga yang hendak menuju Bandung maupun sebaliknya, harus melintasi Sungai Citarum dengan perahu.
Langit mulai agak terang saat melintas di kawasan bukit kapur Cipatat. Di kanan kiri jalan terlihat warung-warung penjual kerajinan dan peuyeum, yakni penganan khas Jawa Barat yang terbuat dari ketela. Rasanya manis-manis asam.
Sementara itu, lalin mulai agak ramai lancar. Sejumlah pengendara motor dari warga sekitar mulai terlihat melintas.

Banyak Helm Cetok
Sekitar pukul 06.22-06.40 WIB, kami beristirahat di warung kecil pinggir Jl Raya Cimahi, Bandung. Persisnya setelah melintasi pertemuan jalan arteri dengan gerbang tol Padalarang. Jika dari arah Padalarang, pengendara sepeda motor harus belok kanan menuju Cimahi sebelumnya akhirnya masuk ke dalam kota Bandung. Di tempat istirahat tersebut kami menikmati sebatang rokok dan segelas kopi plus bakwan goreng dan lontong. Sambil meluruskan kaki dan melemaskan otot lengan setelah berkendara hampir dua jam.
Lalulintas di Jl Raya Cimahi mulai ramai. Pelajar berangkat ke sekolah. Buruh ke pabrik. Karyawan swasta ke kantor. Banyak pelajar terlihat naik motor, ada yang sendiri dan ada yang berboncengan. Ironisnya, masih ada yang tidak menggunakan helm, baik itu boncengannya atau pengendaranya. Sekalipun pakai helm, ada yang masih memakai helm tidak standar alias helm cetok.
Usai istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini situasi lalin sudah amat ramai. Bandung menggeliat. Kami sempat ’nyasar’. Ketika itu, di sebuah pertigaan di Jl Raya Cimahi, situasi lalin padat merayap. Tiba-tiba di depan ada petugas polisi yang memerintahkan kami belok ke kiri karena bagi pengendara yang ingin lurus harus mengambil lajur tengah. Praktis kami terbawa ke kiri jalan, padahal semestinya rute kami adalah lurus. Setelah berputar arah, itupun harus bertanya dahulu kepada petugas polisi, kami melanjutkan ke rute yang benar.
Memasuki pukul 07.05 WIB akhirnya kami tiba di jembatan layang Pasteur-Surapati (Pasupati). Jembatan yang menggunakan teknik cable stayed itu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 12 Juli 2005. Teknik jembatan gantung jembatan Pasupati mirip dengan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura (Suramadu) di Jawa Timur. Suramadu masih tahap pembangunan, ditaksir bakal rampung tahun depan. Pasupati adalah jalan layang dan jembatan sepanjang sekitar 2,3 km yang melintasi jalan Pasteur-Cikapayang– urapati di pusat kota Bandung. Jembatan yang 100% pembiayaannya dari pinjaman pemerintah Kuwait (KFAED), pada saat malam hari kerap digunakan para remaja Bandung berkongkow ria. Kami sempat berpose mengambil gambar di jembatan yang dibangun mulai 22 Maret 1999 dan selesai Juni 2005 itu. Bergantian kami saling berpotret. Kami tidak sempat foto berdua. Sesekali pengendara motor dan mobil yang melintas menoleh ke arah kami. Mungkin dipikirnya, norak amat tuh orang.
Puas mengambil gambar sebagai bukti singgah di Pasupati, kami meluncur ke bekas kampus Jun yakni Universitas Padjajaran (Unpad). Jun bernostalgia. Kami masuk ke gang kecil pemukiman di Jl Dipati Ukur, persisnya Harpancur II. Jarum jam menunjukkan pukul
07.40 WIB saat kami masuk warung ibu May. Menurut Jun, warung itu merupakan tempat favorit saat kuliah selama empat tahun di Unpad. Bu May membuatkan kami teh manis hangat. Perbincangan mengalir ke masa-masa manis Jun kuliah hingga kondisi termutakhir mengenai teman-teman kuliah jun. Ada yang sudah kerja di kantoran hingga wiraswasta buka makanan. Terselip cerita, ternyata pacar Jun jalan dengan mahasiswa lain. Ironis.
Istirahat kami di warung itu menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Dan, kami memutuskan sarapan nasi kuning di sisi lain Jl Dipati Ukur, persisnya di depan kampus Unikom, Bandung. Setelah memarkirkan motor di tepi jalan, saat menengok jarum jam terlihat sudah memasuki pukul 08.18 WIB. Waktu yang kami habiskan di warung pinggir jalan itu hingga pukul 08.44 WIB. Nasi kuning, sesuai namanya, nasi yang berwarna kuning dengan lauk pauk tahu goreng, ayam goreng, dan gorengan.Dengan lahap kami menyantap menu pagi itu. Maklum, sedari subuh perut sudah keroncongan. Sisa-sisa mie goreng dan telur goreng saat mau berangkat dari Jakarta sudah tuntas.
Makan di pinggir jalan itu ditemani suara tapak kaki kuda dan rombongan mahasiswa-mahasiswi Unikom yang berseragam putih hitam. Tampaknya hari itu mereka hendak ujian.
Perjalanan kami lanjutkan menuju hotel tempat kami beristirahat. Jarum jam menunjukkan 09.01 WIB, saat kami tiba di Hotel Grand Seriti, Jl Hegarmanah, Bandung. (edo rusyanto/bersambung)

About these ads
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.298 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: